Artikel

Jumat, 21 Desember 2012

“HUMAN CHARACTER AND BEHAVIOR"



By: Nur Bintang*


       Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung serta mempresentasikan materi kuliah di salah satu universitas swasta yang terletak di Jakarta yaitu ‘Universitas Bunda Mulia’ yang masuk sebagai universitas swasta terbesar di kawasan Jakarta Utara (naik busway ke arah  Ancol dekat Kota tua Batavia, pecinan, dan pelabuhan Tanjung Priok). Materi yang saya presentasikan terkait penjelasan mata kuliah ‘Human Character and Behavior’. Mata kuliah ‘Human Character and Behavior’ ini jika dilihat dalam pemaparannya akan terjadi multiparadigma yakni ragam disiplin ilmu pengetahuan social mulai dari disiplin ilmu psikologi, sosiologi, komunikasi, bahkan antropologi menjadi campur (mix) di dalam penjelasan materinya. Jadi penjelasan untuk mata kuliah ini bisa dikatakan lebih tepatnya adalah mata kuliah umum yang wajib diambil oleh para mahasiswa-mahasiswi di sana. Namun dalam pembahasan ini saya hanya menjelaskan sedikit mengenai materi ‘Human Character and Behavior’ dari hasil penelusuran saya dalam mencari bahan-bahan materi. Check it my power point!

 Apa itu karakter….? What is character….?
  Karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu “charakter” yang artinya  “kesan tanda” atau makna lain yaitu “to mark” yang artinya  menandai tindakan atau tingkah laku seseorang.
  Karakter  menurut arti dalam Pusat Bahasa Depdiknas artinya bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
  Karakter menurut arti kamus besar Bahasa Indonesia artinya sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. 

Analisa Karakter Manusia:
  Aspek Psikologis:
    “Karakter “ berbeda dengan “kepribadian”. “Karakter”  dipengaruhi dari orang yang sering berada di dekatnya  dan sering mempengaruhi kejiwaan diri individu sedangkan  “kepribadian”  berasal dari sifat bawaan sejak lahir karena faktor genetika yang diturunkan oleh ayah-ibu kepada anak.
  Aspek Sosiologis:
   “Karakter” berasal dari pengaruh lingkungan sosial masyarakat  yang  mempengaruhi individu dalam bersikap dan berinteraksi sosial secara luas.
  Aspek Antropologis:
   “Karakter” dibentuk dari sistem kebudayaan sosial dan adat-istiadat  setempat yang berlaku dan disepakati secara kolektif, yang didapatkan individu di dalam sebuah komunitas sosial masyarakat tertentu. 

Apa itu "perilaku"…? What is behavior…?
  Perilaku  adalah perbuatan/tindakan seseorang  yang dapat diamati oleh orang lain (hubungan antara individu dengan individu).
  Sosiolog klasik Jerman yakni “George Simmel” membahas konteks behaviorisme (perilaku) dalam psikologi sosial dengan konsep “sosiabilitas” bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh budaya dimana manusia itu hidup dan tinggal (hubungan antara individu dan masyarakat).
             Contoh: 
             -Perilaku disiplin wujud budaya masyarakat di Jepang.
             -Perilaku hidup praktis cermin budaya masyarakat di Amerika.
             -Perilaku konsumtif (shopping) budaya masyarakat di Indonesia. 

Dimensi Perilaku:
  Dimensi fisik:
   Dapat diamati dan digambarkan secara detail.
  Dimensi Ruang:
   Keadaan lingkungan ketika perilaku itu terjadi.
  Dimensi  Waktu:
    Perilaku yang dilakukan saat ini (sekarang), perilaku yang dilakukan pada masa lampau, dan perilaku yang dilakukan pada masa yang akan datang.

Inti dari "perilaku"…
  Perinsip dasar dari “perilaku” adalah keterkaitan perilaku manusia dengan lingkungannya serta berusaha memahami makna alasan mengapa perilaku tersebut dilakukan.
  Pemahaman  alasan makna “perilaku” dapat merujuk dari pendapat psikolog William James mengartikan konsep “self” (diri manusia) bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai obyek. Kemampuan ini membentuk cara-cara seseorang menanggapi dunia sosial di sekitarnya serta pendapat sosiolog CH. Cooley bahwa perilaku individu atas dirinya sendiri dapat dilihat dari sudut pandang penilaian orang lain terhadap dirinya (looking glass self).

"Perilaku" dapat dirubah…
  Menurut pendapat psikolog dan sosiolog bahwa perilaku manusia dapat dirubah, diperbaiki, bahkan dikendalikan melalui proyek rekayasa sosial melalui beberapa cara:
    - Pengubahan lingkungan yang mempunyai hubungan fungsional dengan perilaku individu.
    - Peran tokoh masyarakat, tokoh pendidik, dan pekerja sosial dalam melakukan upaya  visi pemberdayaan perubahan perilaku dalam membangkitkan kesadaran diri individu dalam suatu lingkungan.
    - Memberi aturan ketat dan sanksi tegas sesuai dengan norma-norma yang berlaku apabila kesadaran individu dalam perubahan perilaku sulit dicapai.
  Diharapkan dengan adanya bimbingan karakter dan perilaku yang baik maka setiap individu menyadari kemampuan potensinya dan memiliki perkembangan mental yang positif dari segala bidang aspek.[] 

-------------------------------------
*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.


Kamis, 06 Desember 2012

‘ANTHONY GIDDENS’ : END OF SOCIALISM VERSUS CAPITALISM ?



Anthony Giddens



Ditulis oleh: Nur Bintang*


Anthony Giddens seorang sosiolog besar Inggris abad 21
Di saat aktivis kampus hingga para ilmuwan sosial asyik berdebat mengenai sosialisme melawan kapitalisme sebagai dogma (keyakinan) lama maka justru Giddens menawarkan alternative baru  The third way” alias “jalan ketiga” untuk menengahi perdebatan yang tidak berkesudahan mengenai pertengkaran golongan sosialis dan golongan kapitalis. Paham sosialisme di negara-negara industri maju kapitalis kerap dianggap sebagai momok yang harus dibersihkan karena paham sosialis membuat kinerja para pengusaha menjadi tidak nyaman dengan aksi pemogokan buruh yang bisa membuat pengusaha menuju pada ambang kebangkrutan karena berhentinya kegiatan produksi dan begitu juga sebaliknya paham kapitalis dianggap momok oleh negara-negara berkembang penganut sosialisme yang dimana perjuangan buruh menuntut kenaikan upah yang layak sesuai standart kebutuhan hidup mereka kepada para pemilik modal (pengusaha) yang dianggap banyak mendapatkan keuntungan dari tenaga para buruh ketika menjalankan kegiatan produksi perusahaan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sosialisme dan kapitalisme semua masalah hanya terletak kepada distribusi pendapatan yang tidak adil dan tidak merata serta saling tidak menguntungkan diantara keduanya. Ketidakpatutan dapat terjadi ketika golongan sosialis dan golongan kapitalis, masing-masing mengklaim dirinya yang paling benar sehingga menjadi segolongan fanatik yang cenderung frontal mengabaikan satu dengan yang lain itulah sebagai suatu hal yang patut untuk dihindari. Tanpa peran pengusaha maka buruh tidak akan dapat memperoleh pekerjaan untuk menafkahi hidup keluarganya serta tanpa peran buruh maka pengusaha tidak akan pernah bisa meraih keuntungan perusahaan yang sedang dijalaninya. Intinya, Giddens berpendapat bahwa perdebatan mengenai sosialisme versus kapitalisme tidak akan memberi jalan solusi untuk damai. Untuk itu Giddens memberikan jalan solusi alternatif dengan melupakan jalan sosialisme (peran sentral negara) yang terbukti gagal dan membenahi jalan kapitalisme (peran pasar) ke arah yang lebih baik dalam memakmurkan kehidupan masyarakatnya!

Anthony Giddens (lahir pada tanggal 8 januari 1938 di Inggris) adalah seorang sarjana jurusan sosiologi lulusan dari Hull University (sebuah universitas kecil di Inggris) karena kesuksesan kiprah intelektualnya ketika melanjutkan studinya di London School of Economic setelah lama mengajar di Leicester University maka karier Giddens melonjak hingga dapat menempati posisi tertinggi di universitas sebagai seorang rektor yang memimpin sebuah lembaga pendidikan yang sangat bergengsi di Inggris bahkan dunia yaitu London School of Economic (LSE) bahkan Giddens sempat menjadi penasihat Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk mengkaji masalah aspek kebijakan sosiologi ekonomi di Inggris. Giddens menawarkan solusi ‘jalan ketiga’ (The third way) yang artinya memilih diantara pilihan untuk mengadopsi sosialisme, kapitalisme, atau campur tangan negara dan pasar bebas. Di saat banyak aktivis yang menentang era pasar bebas justru Giddens menganggap pasar bebas sebagai suatu keharusan karena globalisasi sebagai bentuk akibat pengaruh kemajuan teknologi kemajuan peradaban social manusia yang tidak bisa dihindari ibarat seperti juggernaut (truk besar) yang siap melindas setiap halangan rintangan jalan yang dilalui sehingga globalisasi memiliki makna positif dalam mencapai kemajuan bersama. Giddens berpendapat perlu adanya peran negara dalam membenahi dan membuat regulasi agar kapitalisme tidak serakah mengejar keuntungan materi secara berlebih namun disisi lain Giddens juga berharap agar peran negara juga tidak terlalu berlebihan di dalam mengontrol kebijakan ekonominya seperti pada paham sosialisme dengan siap menerima dengan tangan terbuka setiap investor yang akan menanamkam modal investasi di negaranya. Selain itu, menurut Giddens bahwa otoritas negara di dalam pengelolaan negara harus lebih mengedepankan proses demokrasi di dalam setiap pengambilan keputusan yang harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyatnya (negara harus dapat menjadi rekan partner dengan rakyatnya).

Globalisasi memiliki pengaruh yang besar di dalam proses transformasi social, ekonomi, dan politik di seluruh negara-negara dunia. Menurut Giddens, globalisasi menciptakan masyarakat yang penuh resiko (ketidakpastian) karena terjadi perubahan tradisi-tradisi sosial di dalam masyarakat dan demokrasi bisa digunakan sebagai kunci untuk mengendalikan ketidakpastian dunia. Giddens berpendapat peran negara dan sekat-sekat batasan antar negara akibat pengaruh globalisasi maka menjadikan dunia semakin tidak terbatas dan tidak terkendali. Giddens biasa menyebutnya dengan istilah runaway world atau "dunia lepas kendali yang berlari cepat." Hilangnya sekat batasan negara akibat pengaruh globalisasi maka menciptakan iklim pasar bebas yang melintasi batas antar negara tanpa terkecuali. Mau tidak mau negara harus meletakkan demokrasi sebagai panglima hingga pada akhirnya suatu negara harus mau berurusan dengan lembaga-lembaga internasional untuk menyepakati aturan perdagangan internasional untuk mengendalikan dunia akibat pengaruh globalisasi dan hal ini secara tidak langsung juga akan mengurangi fungsi dan peran negara yang bersangkutan di masing-masing negara. Pasar bebas turut andil membesarkan lembaga-lembaga perdagangan internasional untuk membuat aturan kesepakatan internasional yang wajib ditaati oleh semua negara-negara anggota dalam lingkup komunitas internasional. Kita bisa lihat betapa kuatnya pengaruh lembaga internasional seperti World Bank, WTO (World Trade Organization) dan IMF (International Monetery Found) dalam mendikte kebijakan-kebijakan ekonomi terhadap negara-negara anggotanya, termasuk negara Indonesia maka dari itu teori Giddens acapkali dituduh oleh para aktivis kiri (Marxis) sebagai bentuk dalih untuk melegitimasi gagasan Neo-Liberalisme yang lebih menguntungkan kepada negara-negara industri maju kaya ketimbang negara-negara miskin berkembang.


Aksi para aktivis sosial yang menentang kebijakan WTO


Teori Strukturasi dari Anthony Giddens
Giddens mengembangkan sebuah teori strukturasi yang sangat mengguncang dunia bahkan sangat memberi andil pengaruh konstruk pemikiran baru kepada para akademisi ilmuwan social di seluruh dunia. Teori strukturasi yang membahas ruang dan waktu serta mencari titik temu diantara dualisme ‘struktur’ dan ‘agensi’. Maksud ‘struktur’ disini adalah kondisi social yang sedang atau sudah terjadi sedangkan maksud dari ‘agensi’ adalah aktor-aktor yang memainkan peran social di dalam struktur tersebut yang dimana hubungan kaitan ‘struktur’ dan ‘agensi’ belum menemukan titik jalan temu. Teori strukturasi dari Giddens berusaha mencari solusi jalan keluar titik temu dari dualisme ‘struktur’ dan ‘agensi’. Giddens memandang hubungan pelaku (tindakan) dan struktur sebagai hubungan dualitas (saling terkait) dan bukannya dualisme (tidak saling terkait) bahwa prinsip-prinsip struktural itu terdiri dari tiga hal yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain yakni: struktur signifikansi yang berkaitan dengan dimensi simbolik dan wacana, struktur dominasi yang mencakup dimensi kekuasaan (politik) dan barang (ekonomi), struktur legitimasi menyangkut peraturan normatif dalam tata hukum. Reproduksi social berlangsung melalui dualitas struktur dan praktik social. Wujud konkrit dari prinsip-prinsip structural itu dapat dilihat dari hubungan signifikan antara struktur dan agensi dalam wujud institusi masyarakat modern saat ini seperti perusahaan/instansi negara sebagai struktur dan profesionalisme kerja karyawan atau pegawai sebagai agensi yang menjalankan kegiatan praktik social sehari-hari. Unsur dominasi akan terlihat jika pimpinan perusahaan/instansi yang memiliki kekuasaan dan kekuatan ekonomi membuat pengawasan dan aturan ketat budaya kerja dan bagi karyawan/pegawai yang melanggar aturan akan dikenai sanksi sesuai aturan hukum yang sudah dilegitimasi oleh perusahaan/instansi yang bersangkutan. Karyawan dan pegawai sebagai 'agensi' pada suatu saat akan mampu beradaptasi dan memiliki kesadaran praktis dengan agenda struktur perusahaan/instansi negara ketika menjalankan fungsi peranannya dalam kegiatan praktek sosial sehari-hari. (Perihal aplikasi teori ini, maka saya dengan kerendahan hati juga masih berguru kepada kakak saya yang dahulu saat menyelesaikan tesis di pascasarjana ilmu politik UGM, beliau melakukan analisa menggunakan teori strukturasi Giddens bahkan berhasil mencetuskan ide original dengan mengkritik kelemahan aplikasi teori strukturasi Giddens di lapangan. Salut untuk kakak saya!)

Teori strukturasi Giddens sebenarnya juga ditujukan untuk mengkritik teori fungsionalisme struktural yang dicetuskan oleh sosiolog dari Universitas Harvard yaitu Talcott Parsons yang dimana pengaruh sistem social masyarakat (dominasi struktur) turut andil dalam mempengaruhi individu. Giddens menentang gagasan fungsionalisme struktural ini karena mendapat pengaruh dari pemikiran sosiolog klasik Max Weber bahwa individu mempunyai keunikan kesadaran akal sehatnya di dalam memaknai setiap tindakan sosialnya secara subyektif terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Giddens juga menolak gagasan strukturalisme yang dicetuskan filsuf  linguistik modern (semiotika) asal Swedia yakni Ferdinand de Saussure dan filsuf post-strukturalisme/post-modern asal Aljazair-Perancis yaitu Jacques Derrida. Giddens berpendapat jika bentuk struktur dari makna tanda tersembunyi tidak mengakui keberadaan subyek dalam bahasa. Giddens sekali lagi beranggapan bahwa struktur adalah seperangkat aturan yang membentuk praktek social. Dualitas struktur dan agensi dapat dikaji melalui pemahaman keterkaitan hubungan yang saling mempengaruhi di antara struktur dengan agensi. Kesadaran praktis menurut Giddens adalah kunci untuk memahami dualitas ‘struktur’ dan ‘agensi.' Teori strukturasi yang dicetuskan Giddens berusaha melihat proses ruang-waktu dualitas diantara struktur dan agensi. Strukturasi Giddens juga dapat memberi pemahaman  kepada agensi di dalam memahami secara subyektif setiap makna tindakan sosialnya di dalam sebuah struktur sehingga pengorganisasian struktur dapat terus berjalan seiring berjalannya ruang dan waktu hingga sampai disaat pada titik kondisi struktur yang telah usang dan tidak layak maka dapat dibenahi kembali oleh agensi sesuai dengan perkembangan praktik social yang layak dan jauh lebih baik. Demikianlah sedikit sekelumit dari point-point penting pemikiran dari sosiolog besar Inggris Anthony Giddens. Untuk lebih memahami pemikiran Giddens secara lebih mendalam, silahkan baca buku-buku yang kebetulan saya jadikan referensi dalam postingan blog saya kali ini. Semoga tulisan saya kali ini dapat sedikit mencerahkan…!!![]

--------------------------------------
*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.


Sumber Referensi:

-Anthony Giddens. (2001). "Dunia Yang Lepas Kendali : Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita". Terjemahan: Andry Kristiawan S. dan Yustina Koen S.  Jakarta. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama. 
-B. Herry Priyono, (2002). Anthony Giddens Suatu Pengantar. Jakarta. Penerbit: Gramedia Pustaka bekerjasama dengan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
-George Ritzer dan Douglas J. Goodman. (2004). "Teori Sosiologi Modern". Jakarta: Kencana.


Selasa, 04 Desember 2012

“BY THE WAY : A CUP OF COFFEE IN THE MORNING”








By: Nur Bintang

(Jakarta in the morning).

Iam writing my opinion about social philosophers but my activity always coffee on my table.. hehehe… I remember coffee because I have imagination drink coffee to result the best posting. I need a cup of coffee. NOTHING COFFEE I CAN’T BE A THINKER!

Iam searching on social media and list news online to understanding coffee. Coffee make me strong to think, coffee make me happy in the morning, coffee make me to be fresh work. I like Java coffee and mix coffee. These are very delicious! Taste coffee…

Maybe to all my friends don’t like coffee but coffee is unique for me… Coffee like a spirit to me. Spirit to study social philosophers and read books. I pray to The God including coffee in heaven because coffee give me kindliness productivity work.

Huaamm….. (sleepy)…. Iam drinking a warm coffee..

Hahaha… this is a my experience in the morning about coffee but wait… wait… I want to give you information about Jakarta City today! Jakarta City today is very busy.. I hope to the new Jakarta governor  can correct traffic jam in all corner street in Jakarta City. This is not a joke! Hehehehe… :D


Huaamm… coffee is really spirit symbol to me..

Coffee is spirit a think liberation (according to my opinion)

Busy… very busy but relax enjoying a cup of coffee.




                                                                                      Coffee lover greeting… 

                                                                                            Nur  Bintang


"AURA THEORY : WALTER BENJAMIN"





Oleh: Nur Bintang*

Walter Benjamin adalah seorang tokoh Yahudi dalam tradisi Mahzab Frankfurt (Jerman) yang juga merupakan seorang sastrawan, filsuf kawakan beraliran marxis, sekaligus ‘the great social critism von Germany’. Benjamin lahir di Berlin pada tanggal 15 Juli 1882 dan meninggal dengan jalan bunuh diri pada tanggal 25 September 1940 ketika dalam kondisi jiwa yang tertekan (frustasi) akibat menenggak beberapa butir pil sianida ketika dalam ‘status pelarian’ saat hendak keluar dari perbatasan Perancis yang diduduki Nazi-Jerman menuju Spanyol dalam usaha untuk menghindari kejaran pasukan polisi rahasia Nazi-Jerman (Gestapo) yang kala itu mengejar Benjamin dengan dalih sebagai ilmuwan sosial Yahudi yang memiliki pemikiran-pemikiran berbahaya bagi keberlangsungan otoritas rezim Nazi-Jerman. Selain itu, pasukan Gestapo Nazi-Jerman juga merusak dan menyita buku-buku perpustakaan sumber pengetahuan milik Benjamin. Pemerintah fasis Nazi-Jerman menjalankan ‘politik genosida/pemusnahan etnis’ atas perintah diktaktor “Adolf Hitler” yang sangat bersikap rasis dan membenci ras Yahudi (anti-semit) yang dimana pada akhirnya Nazi-Jerman berhasil dikalahkan dan dikuasai oleh tentara merah Uni Soviet yang dipimpin oleh “Joseph Stalin” yang notabene masih berdarah Yahudi dalam serbuan invansi kilat melalui dua juta tentara merah Uni Soviet yang melakukan penyerbuan ke Jerman. Kekalahan telak Nazi-Jerman akibat jatuhnya Kota Berlin ke tangan Uni Soviet telah mengakhiri perang dunia ke-2 di Eropa.

Benjamin merupakan seorang kritikus budaya yang sangat brilian di era zamannya. Pribadi Benjamin seperti dijelaskan dalam beberapa buku yang pernah saya baca bahwa jika ternyata Benjamin merupakan seorang pribadi yang tertutup dan cenderung anti-sosial/suka menyendiri. Penilaian pribadi Benjamin ini diungkapkan oleh beberapa kawan/koleganya yang selama ini mengenal baik dengan Benjamin. Benjamin sangat jelas terpengaruh pemikiran marxisme di dalam tulisannya terkait dengan kritik sastra dan kritik budaya. Kebanyakan tulisan Benjamin menceritakan tentang akibat buruk modernisasi terhadap kehidupan manusia. Benjamin melalui pemikiran tulisannya berusaha menyelamatkan manusia dari keburukan akibat modernisasi melalui jalan seni (art) yang membebaskan atau “estetika penyelamatan”.

Foto 1. tentara Nazi-Jerman ketika sedang melakukan pengejaran.


Benjamin pernah menulis sebuah karya maestro yang berjudul “The World of Art in The Age Mechanical Reproduction” pada tahun 1935 sebagai bentuk kritik terhadap ’industri budaya’ yang melanda Eropa pada zaman itu. Benjamin menjelaskan sejarah industri budaya mengalami nilai perubahan dari nilai seni sebenarnya yang bermakna ritual pada wujud pemujaan pada dewa-dewi (Tuhan) yang kemudian berubah sebagai bentuk materialisme yang dibungkus dalam wujud seni dan diproduksi secara massal untuk diperjual-belikan secara komersil kepada kelas-kelas sosial tertentu, ex: pertunjukan seni orkestra klasik yang ditujukan untuk golongan bangsawan Eropa kelas atas atau wujud-wujud lukisan dan seni patung yang dijual kepada para kurator seni dengan harga tinggi di beberapa art gallery. Karya yang ditulis Benjamin ini sebenarnya merupakan bentuk sanggahan terhadap tesis Theodor Adorno (kritikus budaya Mahzab Frankfurt) yang menganggap industri budaya sebagai bagian wujud dari eksistensi masyarakat industri modern kala itu. Reproduksi mekanik yang dipikirkan oleh Benjamin dalam karya-karyanya lebih cenderung pada hal kemajuan teknologi peralatan teknis yang mampu memproduksi berbagai macam karya seni sesuai dengan wujud aslinya. Proses mekanik dalam produksi karya seni akan berpengaruh terhadap ”aura” dari wujud karya seni itu sendiri. Benjamin lalu mencetuskan ”aura theory” yang menjelaskan bahwa wujud karya seni buatan yang dibuat sesuai dengan wujud asli karya seni yang bersifat ’asli’ akan memudarkan ’aura’ dari karya seni tersebut. Hal tersebut bisa saya ambil contoh dari wujud lukisan postmodern ”The Scream” karya Edvard Munch (1863-1944), seorang pelukis ekspresionis asal Norwegia dan lukisan realisme ”Mona Lisa” karya Leonardo Da Vinci, seorang ilmuwan sekaligus pelukis renaissance Eropa abad 15 asal Italia (lukisan ini kini disimpan di museum Louvre, Paris, Perancis), berikut ini:

Foto 2. lukisan ”The Scream”.



Foto 3. lukisan ”Mona Lisa”.



Dari lukisan foto di atas apa yang bisa kita lihat dan kita tafsirkan jika menggunakan kacamata pemikiran dari Benjamin...? Yups benar... ’aura’ lukisan asli dari lukisan ”The Scream” dan lukisan ”Mona Lisa” jelas nampak pudar... why..??? because these pictures are not original! but we can enjoy see all duplicate pictures! Tanpa kita harus mengeluarkan banyak uang untuk pergi jauh-jauh melancong ke Eropa hanya untuk sekedar melihat lukisan aslinya tapi toh kita bisa menikmati lukisan tersebut walau melalui sebuah gambar foto yang diproduksi secara mekanik sesuai dengan wujud aslinya. Artinya kesakralan lukisan asli yang diproduksi secara massal tersebut jelas nampak memudar dan mulai hilang. Keunikan karya seni adalah kelangkaannya (terbatas/ekslusif) dan aura kelangkaan karya seni tersebut akan rusak atau bahkan hilang jika karya seni tersebut diproduksi massal akibat kemajuan teknologi sehingga semua orang dapat melihat, menikmati, dan mendapatkannya karya seni secara mudah (tidak langka lagi). Benjamin melalui pemikirannya berjuang ingin mengembalikan hakikat seni ke dalam wujud aslinya yakni pada hakikat keindahan dalam wujud ”seni murni” yang terlepas dari pengaruh materialisme kebudayaan yang berjalan seiring kemajuan teknologi reproduksi dengan bertumbuhnya alat foto, alat perekam, dan media massa televisi yang banyak dimiliki oleh para kaum pemilik modal di dalam menjalankan bisnis industri kebudayaan. Inti dari pemikiran Benjamin bahwa ternyata penemuan teknologi memberikan akses distribusi kebudayaan yang sangat luas kepada khalayak masyarakat yang pada akhirnya justru makin membunuh ’aura’ dari karya seni itu sendiri.[]
*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.


Sumber Referensi:

-Martinjay. 2009. Sejarah Mahzab Frankfurt: Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis. Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-Stuart sim dan Borin van loon. 2008. Memahami Teori Kritis. Yogyakarta. Penerbit: Resist Book.