Artikel

Selasa, 03 Juli 2012

"SAJAK ANAK MUDA" by: WS. RENDRA


The Great Poet of Indonesia: WS. Rendra



Kata Pengantar: Nur Bintang*

Ketika saya membaca puisi dari almarhum WS. Rendra maka hati saya sangat terasa tersentuh membaca makna arti dari setiap kata demi kata hingga pada akhir sajak kalimatnya. Beliau adalah seorang sastrawan, budayawan, dan penyair favorit saya.. Saya juga mempunyai hobi menulis sajak puisi tetapi tetap bila dibandingkan dengan beliau maka saya tidak ada apa-apanya dan masih harus lebih banyak untuk belajar lagi.. hehehe...^^  Silakan anda tafsirkan sendiri makna arti puisi dari almarhum WS. Rendra ini. Beginikah keadaan para lulusan ilmuwan sarjana dan kondisi pendidikan di negara kita. Lagi-lagi soal perkara "ETIKA/ETHIC" yang dalam filsafat selalu menganjurkan harmonisme nilai-nilai luhur kemanusiaan yang nampaknya sudah semakin dilupakan dan tidak diperhatikan lagi karena nilai-nilai sosial kemanusiaan sekarang telah bergeser dan diganti oleh uang dan uang... jabatan dan jabatan.. setiap kehormatan sesorang dihargai melalui simbol status/kelas sosial jabatan dan kekayaan tanpa melihat rasa jiwa kemanusiaan dalam diri orang tersebut. Sedih rasanya hati ini, namun begitulah realitas sosial saat ini sebenarnya. Tidak salah juga jika ada penyair Jawa yakni Ronggowarsito yang menamai salah satu kumpulan syairnya dengan judul "Zaman Edan" sebuah puisi kritik sosial yang membedakan dengan sajak puisi dari almarhum WS. Rendra hanya soal perbedaan sejarah waktu yang tidak kalah gilanya! Puisi kritik sosial yang menggugah jiwa. Silakan baca lalu tafsirkan sendiri makna puisinya.[]

*Nur Bintang adalah pengamat sosial dan budaya


Sekolah "Akademia" yang didirikan Plato pada tahun 385 SM di Athena (Yunani)
 yang dilukis oleh Raphael Sanzio pada tahun 1510 pada salah satu tembok di Vatikan


"SAJAK ANAK MUDA"
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hapalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!

Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tata warna
yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara.

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

(WS Rendra, Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar