Artikel

Jumat, 31 Januari 2014

“FILOSOFI JAZZ: MUSIK PERLAWANAN KULTURAL”




Ditulis oleh: Nur Bintang*

"Saya lebih suka menganggap jika musik jazz
adalah seni intelektual
(Nur Bintang, pengamat sosial dan budaya)
 


Savoy Saturday Nite, Gil Mayers, 1995

Pernahkah anda menonton film “THE TERMINAL” tahun 2004 yang disutradai Steven Spielberg dan dimainkan oleh aktor kawakan Hollywood yaitu Tom Hanks? Film ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang menceritakan tentang kedatangan seorang pelancong yang bernama Viktor Navorski dari sebuah negeri di Eropa Timur di terminal airport John. F Kennedy, New York, Amerika Serikat. Cerita dalam film ini bermula ketika kedatangan Viktor Navorski harus dilarang dan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh pihak imigrasi karena pasportnya dianggap tidak berlaku dengan alasan negara asalnya sedang terjadi kudeta, peperangan dan kekosongan pemerintahan sehingga statusnya dianggap tidak legal. 

 
Film 'The Terminal' yang diperankan aktor Tom Hanks

Viktor Navorski yang diperankan oleh aktor Tom Hanks kemudian membuat beberapa cara agar dapat meraih simpati untuk bisa lolos masuk ke kota New York, Amerika Serikat walaupun harus menghadapi halangan-rintangan yang dibuat oleh kepala bandara John F. Kennedy. Film ini sangat menyentuh dan humanis karena Viktor Navorski datang ke Amerika Serikat hanya untuk melengkapi tanda tangan para musisi jazz dari sebuah grup band jazz favorit almarhum ayahnya. Melalui perjuangan dan dukungan kawan-kawan yang dikenalnya selama beberapa bulan di bandara akhirnya Viktor Navorski berhasil mendapatkan izin resmi masuk ke Kota New York, Amerika Serikat dengan tujuan untuk melengkapi seluruh tanda tangan dari seluruh personel grup band jazz tersebut yang sebenarnya hanya tinggal tersisa satu buah tanda tangan dari seorang personel keturunan Afro-America, pemain saksofon  yang masih bekerja pada sebuah klub malam di sudut Kota New York. Itulah sekelumit dari kekuatan dan daya tarik dari sebuah musik jazz. 

Saya sendiri mempunyai sedikit kesamaan dari tokoh utama yang diperankan Tom Hanks di film “THE TERMINAL” tersebut karena saya termasuk penggemar musik jazz. Saat saya berada di waktu santai dan rileks terkadang membaca buku sambil mendengarkan beberapa lagu smooth jazz dari musisi jazz kawakan seperti Nat 'King' Cole melalui beberapa lagu “L-O-V-E”, “Mona Lisa”, “Tenderly”, etc atau lagu-lagu dari The Cake hingga beberapa lagu jazz instrumental yang dimainkan oleh beberapa musisi jazz dunia seperti Louis Armstrong, Charlie Parker, Sidney Bechet, dan Dizzy Gillespie melalui suara merdu alat musik tiup trompet dan saksofon mereka. Entah apa yang membuat saya betah terhadap musik jenis ini, dalam prinsip estetika saya bahwa semakin rumit dan sulit sebuah lagu jazz untuk dipahami, didengarkan apalagi untuk dimainkan maka lagu jazz tersebut akan semakin bertambah sexy di gendang telinga saya tanpa memandang siapapun latar belakang komposer atau musisinya. Bagi saya musik jazz adalah musik kebebasan. Musik yang berani mendobrak dogma, aturan dan pakem-pakem budaya lama bahkan musisi jazz besar Amerika seperti Charlie Parker sempat mengatakan bahwa jazz adalah musik yang tidak bisa didefinisikan (JAZZ BE YOUR SELF!).

                                             Musisi jazz 'Louis Armstrong'

http://0.tqn.com/d/jazz/1/0/-/3/-/-/LouisArmstrongHip_ORecords.jpg

Musisi jazz 'Charlie Parker'

http://s3.amazonaws.com

Ketika membahas musik jazz saya jadi teringat sebuah buku “Jazz, Parfum dan Insiden” karya dari sastrawan besar Indonesia yaitu Seno Gumira Ajidarma bahwa jazz akan tetap hidup dan berkembang jika ia membuka dirinya. Jazz adalah soal bermain jazz, bukan soal lagu apa atau lagu siapa yang dimainkannya. Ada ulasan tulisan yang menarik dari Seno Gumira Aji Darma jika musik jazz bisa berubah menjadi sebuah gaya, trend setter walaupun orang tersebut tidak paham soal musik jazz yang penting nge-jazz untuk bergaya. Saya berpendapat hal tersebut bisa benar adanya karena musik jazz menurut pandangan saya secara konteks sosiologis terkini telah dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah cita rasa seni, gaya hidup, seni multikultural, musik postmodern, musik alternatif (avant-garde). Sejarah jazz sebagai musik perlawanan yang berhasil menantang keangkuhan ‘budaya tinggi’ Eropa yaitu musik orchestra klasik, memang pantas untuk diapresiasi untuk semua kalangan penikmat musik.

Jazz bisa meraih penghormatan seperti sekarang ini ternyata tidak terlepas dari banyaknya musisi jazz kulit hitam (Afro-America) dahulu yang harus berpuluh-puluh tahun berjuang, merebut singgasana terhormat musik orchestra klasik yang sempat mendominasi kebudayaan massa seluruh kawasan Eropa Barat terutama Amerika Serikat agar dapat berdiri sejajar dan setara dengan budaya mereka (sebelum tahun 1920-an). Musik jazz lahir dan berkembang dari peradaban kebudayaan kulit hitam di Amerika Serikat yang melalukan perlawanan kultural dengan membuat budaya tanding (counter culture) terhadap segala bentuk hasil kebudayaan bangsa kulit putih Eropa saat itu yang dianggap masih melakukan praktik diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap bangsa kulit hitam di masa lalu. Nampaknya keberadaan dan penampilan musisi jazz kulit hitam di Amerika Serikat pada masa itu memancarkan aura daya tarik alienasi seniman dan warna kulit.

Sosiolog Yahudi-Jerman sekaligus filsuf, musikolog, kritikus budaya aliran Mahzab Frankfurt yaitu Theodor Adorno pernah mengkritik musik jazz sebagai budaya rendah. Budaya rendah ini menurut Adorno karena menganggap musik jazz hanya mencetak individualisasi semu dimana industri label rekaman sebagai pihak kapitalis sudah membuat selera kebebasan individu dalam memilih musik pop menjadi non standarisasi dalam proses produksinya dan cenderung memanipulasi selera musik masyarakatnya. Akibatnya, musik jazz menurut pendapat Adorno telah menjadi sebatas komoditas musik hiburan produk industri untuk meraih keuntungan dari para konsumer seni. Namun saya secara pribadi menolak dan menentang gagasan Adorno atas kritiknya terhadap musik jazz. Anti-tesis pemikiran saya terhadap pemikiran Adorno bahwa musik jazz itu sendiri sebenarnya adalah musik berbudaya tinggi. Jazz adalah suara nada indah dari Tuhan yang diwahyukan kepada bangsa kulit hitam (Afro-America) untuk melawan segala bentuk diskriminasi rasial dan penindasan budaya bangsa kulit putih Eropa terhadap mereka di masa lalu. Klub malam dan rekaman musik nampaknya telah berubah menjadi rumah ibadah dan media khotbah bagi para musisi jazz kulit hitam saat itu untuk berkarya dan memberikan sentuhan hiburan bagi para imigran masyarakat kulit hitam lainnya yang dilarang memasuki dan menikmati tempat-tempat hiburan megah yang hanya boleh diperuntukkan kepada imigran bangsa kulit putih Eropa di Amerika. JAZZ IS POWER!


Musisi Jazz Afro-America
 
Musik jazz di masa lalu memang selalu dikonotasikan negatif sebagai wujud budaya rendah, kondisi pengangguran, pemberontakan, kecemburuan sosial, pelanggaran hukum dari kacamata persepsi bangsa kulit putih Eropa karena musik jazz saat itu banyak dimainkan di kawasan marjinal pemukiman kumuh Afro-America terutama di kota-kota besar semacam New Orleans, Los Angeles, Chicago, San Francisco, New York di Amerika Serikat. Apapun itu, Jazz memang lahir dan besar di segala tempat dalam kondisi tekanan sosial, konflik sosial dan kriminalitas tumbuh menjamur di kawasan Amerika Serikat di masa lalu seperti klub malam/bar yang menjadi arena tempat perjudian, prostitusi, transaksi narkotika dan segala stereotip negatif yang melekat terhadapnya. Namun saya tetap memandang jazz sebagai salah satu ritual seni tinggi bangsa kulit hitam (Afro-America) yang dilakukan melalui praktek seni kebudayaan yaitu permainan musik dalam usaha untuk merebut makna harga diri dan identitas sosial serta melawan segala bentuk budaya penindasan. Banyak musisi jazz kulit hitam dahulu yang bekerja di klub-klub malam melakukan jam session dengan bermain musik, mengimprovisasi banyak lagu untuk menghibur para pengunjung klub yang menari, berdansa, dan memesan minuman. Bisa dibilang keberadaan pub, klub malam, bar saat itu menjadi ruang eksistensi sosial bagi para musisi jazz kulit hitam untuk mengokohkan makna identitas sosial dan kulturalnya di tengah penolakan sosial mayoritas imigran bangsa kulit putih Eropa di Amerika Serikat terhadap kehadiran imigran bangsa kulit hitam Afro-America.

Saya sempat membaca buku “Jazz 101 ; A Complete Going to Learning & Loving Jazz” karya Prof. John F. Szwed, seorang antropolog, musikolog ahli studi budaya Afrika dan budaya Afro-America dari Universitas Yale, Amerika Serikat bahwa sejarah jazz sendiri bermula dari sebuah rekaman pertama oleh seniman jazz kulit hitam pada tahun 1915 namun sebenarnya musik jazz sendiri berkembang di klub-klub bawah tanah di pinggiran Kota New Orleans (1900-1925) terutama di daerah sekitar pelabuhan dimana banyak pekerja kulit hitam yang menjadi pekerja (pengangkut barang) di kapal-kapal. Banyak ahli yang mengatakan jika akar dari musik jazz berasal dari musik blues yang dimelodikan dan dimainkan secara lebih serius seperti halnya musik klasik. Pada awalnya, musik jazz banyak dimainkan pada acara perkumpulan sosial (pesta/dansa), parade, pemakaman ataupun festival pada acara resmi di kota.

Memang tidaklah salah jika musik jazz berkembang di Kota New Orleans karena pada masa lalu banyak yang menganggap kota ini sebagai “The New of Athena” dimana kota yang terletak paling bawah di negara Amerika Serikat ini merupakan tempat terjadinya pertemuan kebudayaan yang beraneka ragam (budaya afrika - budaya eropa - budaya latin) sehingga menghasilkan kebudayaan seni indah termasuk musik jazz. Pada tahun 1917 terdapat grup musik yang bernama “Original Dixieland Jazz Band” dari New Orleans yang memainkan jenis musik yang dinamakan jazz seperti yang kita kenal seperti saat ini dan berhasil merekam beberapa lagunya di Kota New York. 

Kemunculan band jazz legenda lain seperti “King Oliver and Creole Jazz Band” yang dimana pemain trompet sekaligus musisi jazz dunia yakni Louis Armstrong ikut menggawanginya dengan banyak melakukan aksi solo melalui rhytem section yang menjadi ciri khas mereka dalam beberapa pertunjukan secara live TV dan radio di Amerika Serikat. Inti dari grup band jazz sendiri banyak mengadopsi dari marching band dimana kedudukan para pemain trompet, klarinet, bahkan saksofon mempunyai tempat yang penting dalam sebuah band yang terdiri dari drum, gitar, piano, dan bass. Jazz mendapat pengakuan sebagai bagian dari representasi budaya Amerika pada akhir abad 20 dan berpengaruh menghilangkan sekat batasan terhadap kelas sosial dan ras suku bangsa di Amerika. Berikut ini adalah kronologi perkembangan musik jazz yang diambil dari buku “Jazz 101 ; A Complete Going to Learning & Loving Jazz”:

-Pra Jazz (1875-1915)
-Jazz New Orleans (1910-1927)
-Swing (1928-1945)
-Bebop (1945-1953)
-Cool Jazz/West Coast Jazz (1949-1958)
-Hard Bop (1954-1965)
-Soul/Funk Jazz (1957-1959)
-Modal Jazz (1958-1964)
-Third-Stream Jazz (1957-1963)
-Free Jazz (1959-1974)
-Fusion dan Jazz Rock (1969-1979)
-Neo-Tradisionalisme (1980-……..)

Saya sendiri dahulu sebenarnya adalah seorang pemain bass (bassist) pada formasi grup band. Saya suka bermain bass dengan gaya funk memainkan beberapa teknik slap. Saya masih ingat dahulu bersama teman-teman band ketika zaman kelas 2 SMA berhasil masuk final 10 besar dalam ajang kompetisi festival band pelajar yang diselenggarakan oleh YAMAHA musik di Kota Purwokerto walaupun harus kalah dan bahkan tidak pernah menang juara sekalipun namun ada kepuasan tersendiri bagi saya dan kawan-kawan ketika itu bisa menyisihkan puluhan peserta grup band pelajar lainnya. Namun saat ini, saya memutuskan untuk berhenti bermain gitar bass lagi karena saya merasa jika dunia saya bukanlah di dunia musik dan selain itu, saya juga mengakui tidak mempunyai potensi bakat yang hebat dalam bermusik namun saya masih senang membaca biografi beberapa tokoh musisi jazz terutama pada pemain bass-nya. Bagi saya, musik jazz adalah musik hati, musik yang membebaskan jiwa. Berkembangnya musik jazz yang dimainkan para musisi kulit hitam telah menjadi wujud resistensi budaya Afro-America terhadap dominasi budaya Eropa di Amerika Serikat. Saya secara pribadi berpendapat jika musik jazz merupakan bentuk gerakan kebudayaan (cultural movement) dari bangsa kulit hitam (Afro-America) yang menuntut pengakuan hak-hak sosialnya di masa lalu. 

         Musik jazz saat ini sudah mendunia terutama di Indonesia yang konon dahulu musik jazz diperkenalkan masuk ke Indonesia pada awal abad 20 oleh para musisi jazz dari Philipina yang banyak bermain dalam pertunjukkan musik jazz pada hotel-hotel berbintang sewaktu zaman penjajahan kolonial Belanda. Saya terkadang suka mendengarkan beberapa jenis musik perpaduan musik etnik tradisional dengan musik jazz seperti beberapa musik yang dimainkan grup dan beberapa musisi jazz kenamaan Indonesia seperti grup band Krakatau atau permainan musisi jazz dari Bali yaitu Balawan, musisi jazz dari Yogyakarta seperti Djadug Ferianto, musisi jazz Purwokerto yaitu Bayu Wirawan merupakan sosok pianist jazz Indonesia sebagai art tatum yang piawai memainkan beragam improvisasi jazz modern hingga tradisional. Nama-nama mereka kini bahkan sudah terkenal di belantika komunitas jazz internasional. 

JAZZ TASTE INDONESIA itu yang sebenarnya saya suka dari lagu dan gaya permainan musik jazz dari musisi Indonesia. Rasanya mendengarkan lagu-lagu jazz etnik tradisional yang diiringi alat-alat musik tradisional seperti: gamelan, angklung, kendang, seruling bamboo etc dari para musisi jazz Indonesia benar-benar mampu menunjukkan kekayaan seni dan budaya Indonesia kepada dunia dan jujur saya merasa ikut bangga atas hasil karya intelektualitas dari mereka. Jazz adalah fleksibilitas bermain musik dan keterbukaan terhadap semua ragam jenis alat musik terutama juga terhadap para pendengarnya. Kita sendiri dapat menikmati musik jazz dimana saja seperti menikmati pertunjukkan musik jazz di angkringan pinggir jalan dengan konsep sederhana dan merakyat seperti yang sering diadakan di Kota Yogyakarta atau pertunjukkan musik jazz mewah,ekslusif, elite dengan gemerlap lampu seperti yang sering diadakan di panggung-panggung teater di Kota Jakarta. Saya masih menganggap jika musik jazz rasa Indonesia saat ini termasuk musik jazz kelas dunia yang intelektual, kreatif, unik dan original.

Jazz dapat dikatakan sebagai seni pertunjukkan live yang berbeda dari musik rekaman produksi label. Penikmat musik jazz sangat haus terhadap bentuk improvisasi dan aransemen baru dari setiap penampilan live sebuah grup band jazz. Hal tersebut seperti apa yang pernah sastrawan Seno Gumira Aji Darma tuliskan dalam bukunya yang berjudul “Jazz, Parfum dan Insiden” yang menggambarkan seni instrument jazz pada bentuk bebop yang dimana setiap instrument alat musik tersebut akan bercakap-cakap, berbicara, spontan menggunakan alur bahasa musik menurut selera dari musisi sendiri. Bisa dikatakan bentuk bebop dalam musik jazz adalah sebagai bentuk dialog antar alat instrument musik dengan mempermainkan ketertiban seperti suara kacau, lepas-kendali, terpeleset, dibolak-balik, bersahut-sahutan yang tidak direncanakan sebelumnya namun tetap enjoy menjaga alur beat iramanya dengan selaras. Semakin kacau, berisik dan selaras maka gaya permainan bebop pada musik jazz akan semakin bertambah nilai artistiknya karena diperlukan penghayatan dan pemahaman tinggi atas kejeniusan improvisasi dan aransemen dari para komposer atau musisi jazz tersebut dalam berinteraksi terhadap para penontonnya.

Representasi musik jazz di zaman millennium kini berbeda dibandingkan kondisi pada zaman di masa lalu. Musik jazz saat ini identik sebagai keterbukaan, kebebasan, elite, prestise, toleransi, multikultural, universal dan intelektual. Jazz kini berubah wujud sebagai kebanggaan artistik dan kultural. Jazz menjadi wujud seni kebudayaan postmodern atas segala hal yang sudah pernah dilakukannya selama ini. Jazz telah berhasil dan mewujudkan toleransi dan menentang segala bentuk rasisme. Terlalu dangkal jika kita memahami musik jazz ini melalui bentuk dan segala simbol stereotip. Jazz adalah musik sosial dengan segala ciri organisasi sosial Afro-America dalam wujud praktik kebudayaannya yang kini berkembang luas melintasi dunia dan mempersatukan beragam religi, ras dan suku bangsa. Jazz berhasil mendobrak dogma lama pemikiran Barat selama ini dengan menghapus perbedaan peran para pemainnya dalam sebuah grup band. Setiap musisi jazz bisa leluasa luas berimprovisasi tanpa batas menurut selera aransemen dan intuisinya. Mungkin benar pendapat Prof. John F. Szwed jika musik jazz merupakan seni yang terdokumentasikan paling baik dalam panggung sejarah dunia.
*Nur Bintang adalah pengamat sosial dan budaya

ooo

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus