Artikel

Minggu, 05 Januari 2014

“AMERICAN DREAM OR INDONESIAN DREAM ???”

Ditulis oleh: Nur Bintang*

Darkness cannot drive out darkness. Only light can do that." 
(Martin Luther King Jr.)



Film 'Scarface' yang  sangat fenomenal

          Slogan American Dream merupakan semboyan mimpi bagi kebanyakan masyarakat di  Amerika sendiri ataupun warga imigran yang hijrah ke Amerika hanya untuk merubah nasib, mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Kemajuan ekonomi di Amerika dengan paham kapitalismenya yang mendunia bagaikan intan permata yang banyak menarik pesona para imigran untuk hijrah ke Amerika Serikat. Saya teringat pada salah satu film Hollywood tahun 1983 yang berjudul ‘Scarface’ yang dimana tokoh utamanya diperankan oleh aktor kawakan Al Pacino. Film ini bercerita mengenai bos mafia Amerika yang bernama Tony Montana, seorang warga imigran asal Kuba yang melarikan diri dan mencari suaka ke Amerika Serikat akibat tekanan dari kebijakan politik dari pemerintah Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro. Kegigihan perjuangan Antonio Montana dari seorang imigran pengangguran miskin di Amerika yang kemudian berusaha merubah nasib dari seorang pekerja serabutan yang menjadi pelayan di sebuah rumah makan hamburger, pengedar narkoba, hingga akhirnya sukses menjadi jutawan sekaligus bos mafia nomor satu di Amerika yang menguasai bisnis ritel narkoba di beberapa negara bagian di Amerika hingga sampai ke mancanegara. Ini hanya sekelumit film yang menceritakan tentang keinginan dan kegigihan seorang imigran yang ingin merubah nasib melalui usaha kerja keras di Amerika namun sayangnya dalam bentuk konotasi yang masih negatif.



Film 'The Pursuit of Hapyness' yang menginspirasi

Kisah nyata mengenai gambaran ‘American Dream’ ada juga yang dalam bentuk konotasi positif seperti film Hollywood tahun 2006 yang berjudul ‘The Pursuit of Happyness’. Film ini menceritakan mengenai kisah nyata perjuangan hidup seorang pria di Amerika Serikat bernama Chris Gardner (diperankan aktor Will Smith) yang bekerja sebagai sales alat-alat kesehatan yang kemudian jatuh bangkrut dan hidup miskin bahkan ditinggal pergi begitu saja oleh isterinya. Walaupun dia seorang tunawisma bahkan pernah tidur dan bertahan hidup sambil merawat anaknya yang masih kecil di sebuah WC umum untuk sekedar dapat beristirahat karena tidak memiliki cukup uang untuk menyewa sebuah apartemen atau losmen. Semangat hidupnya dalam merubah nasib yang lebih baik melalui usaha kerja kerasnya tidak sia-sia karena kemudian dia melamar pekerjaan dan berhasil diterima bekerja sebagai seorang pialang saham pada salah satu perusahaan swasta besar di Amerika hingga sukses berkarier dan memiliki posisi penting di perusahaan. Prestasi kerjanya yang dianggap bagus oleh perusahaan tempat dia bekerja memberikannya bonus berupa penghasilan yang mencapai jutaan dollar untuk setiap transaksi bisnisnya. Kesuksesan dan perjuangan kisah hidupnya dari orang miskin menjadi jutawan menjadi cermin gambaran nilai-nilai ‘American Dream’ yang masih melekat bagi kebanyakan masyarakat di Amerika Serikat.


Film 'The Butler' yang menyentuh dan humanis

         Adapun contoh ‘American Dream’ dari perjuangan para imigran di Amerika Serikat yang sangat menyentuh hati menurut pandangan saya dapat dilihat dari gambaran film Hollywood yang dibuat pada tahun 2013. Film yang diangkat dari sebuah kisah nyata ini berjudul ‘The Butler’. Film ini pada dasarnya menceritakan mengenai nilai-nilai perjuangan seorang kulit hitam yang hidup dalam tekanan diskriminasi superioritas bangsa kulit putih Eropa di Amerika Serikat pada masa lalu terhadap bangsa imigran kulit hitam Afrika di Amerika sebelum zaman pergerakan demonstrasi mahasiswa Amerika melalui gerakan hippie, flower generation, dan black liberation yang menentang kebijakan Perang Vietnam dan diskriminasi rasial terhadap warga imigran kulit hitam di Amerika pada dekade tahun 1960-an. Seorang pria kulit hitam yang bernama Cecil Gaines (diperankan oleh aktor Forest Whitaker) mempunyai mimpi untuk merubah nasib yang lebih baik. Kisah perjuangan hidupnya diawali dengan bekerja sebagai seorang pelayan rumah tangga biasa dan kemudian dapat beranjak menjadi pelayan pada salah satu hotel berbintang di Washington D.C. yaitu Hotel Exelsior hingga akhirnya, ia berhasil mendapat rekomendasi untuk bekerja menjadi pelayan di Gedung Putih, Washington D.C. dan semua hasil jerih payah kerja kerasnya selama ini berhasil mencukupi semua kebutuhan ekonomi keluarganya. Pekerjaannya selama bertahun-tahun sebagai pelayan di Gedung Putih saat itu lebih banyak hanya untuk melayani semua kebutuhan presiden-presiden Amerika Serikat yang mayoritas merupakan bangsa kulit putih hingga pada suatu saat, peristiwa yang mengharukan terjadi dimana Cecil Gaines, seorang kakek yang dahulu merupakan seorang pelayan kulit hitam yang sudah lama pensiun bekerja di Gedung Putih hampir selama 30 tahun lebih dan pernah merasakan praktek diskriminasi rasial kebijakan di negaranya di masa lalu mendapatkan sebuah kehormatan besar yaitu berupa undangan resmi atas nama Presiden Amerika Serikat untuk dapat bertemu langsung secara pribadi dengan presiden kulit hitam pertama dari Amerika Serikat yaitu Presiden Barack Obama.


American Dream diwujudkan melalui usaha kerja keras dan prestasi

American Dream bagi kebanyakan masyarakat di Amerika Serikat termasuk para imigran di sana ialah mengejar kesuksesan melalui usaha kerja keras dan prestasi. Tidak heran akibat semangat American Dream ini mengubah mindset kebanyakan warga di Amerika untuk lebih banyak berkiprah di sektor swasta sebagai buruh/karyawan atau berwirausaha di berbagai sektor lapangan pekerjaan dan berusaha memenangkan setiap kompetisi dan persaingan yang ada. Masih tidak terlalu banyak bagi warga masyarakat biasa di Amerika yang ingin berkiprah dan berkarier dalam instansi kantor-kantor pemerintahan dengan status pegawai negeri atau sebagai politikus agar bisa duduk di kursi parlemen (para politisi di Amerika Serikat kebanyakan masih didominasi oleh para aktivis, para akademisi, veteran atau pengusaha mapan yang sudah dikader lama oleh partai). Hal ini dapat dilihat dari perkembangan sektor perniagaan dari perusahaan-perusahaan swasta di Amerika yang sangat berkembang dan memberi banyak pemasukan pajak bagi negaranya walaupun sempat mengalami krisis ekonomi beberapa waktu lalu. Kota New York saat ini dianggap sebagai ikon kota yang paling maju dalam hal bisnis perniagaan dalam sektor swasta di Amerika bahkan secara tidak langsung telah menjadi lambang supremasi kapitalisme bagi kemajuan ekonomi di Amerika itu sendiri bahkan di dunia.

Bagaimana dengan Indonesian Dream di Indonesia saat ini? Saya sebagai orang Indonesia memiliki sudut pandang dan pendapat sendiri jika melihat mimpi kebanyakan orang Indonesia pada saat ini ialah menjadi caleg (calon legislatif) dengan duduk di kursi parlemen atau menjadi seorang abdi negara di berbagai instansi pemerintahan dengan status Pegawai Negeri Sipil. Mimpinya orang Indonesia ini adalah hak masing-masing warga negara Indonesia yang harus tetap kita hormati bersama. Fenomena perkembangan ‘Indonesia Dream’ ini terlihat sangat menarik untuk dikaji karena dahulu pada zaman Orde Lama di bawah pemerintahan Presiden Ir. Soekarno, kebanyakan mimpinya orang Indonesia pada saat itu belum mengarah pada persoalan spesifik sosial ekonomi tetapi lebih mengarah kepada aspek sosial kebangsaan dengan mengangkat harkat dan martabatnya sebagai bangsa berdikari dan merdeka yang lepas dari belenggu penjajahan asing dan setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia (character building). 

Mimpi orang Indonesia ini kemudian bergeser ketika era Orde Baru berkuasa di bawah pemerintahan Presiden Soeharto dimana kebijakannya lebih mengarah kepada pembangunan ekonomi (economy building). Pada zaman inilah kebanyakan masyarakat di Indonesia memiliki mimpi yang hampir sama dengan mimpinya orang Amerika (American Dream) pada saat ini yakni bekerja pada sektor swasta, wirausaha, dan perniagaan. Pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto tidak begitu banyak masyarakat Indonesia terutama yang berada di perkotaan yang tertarik untuk menjadi abdi negara (kecuali di daerah pedesaan dimana status menjadi abdi negara pada saat itu masih melekat tinggi) karena kecenderungan masyarakat Indonesia saat itu lebih tertarik berkiprah di sektor swasta terutama industri dengan banyaknya investasi dari pihak luar yang masuk ke Indonesia dan dianggap lebih menguntungkan.


ilustrasi: Pegawai Negeri Sipil di Indonesia

Mimpi orang Indonesia (Indonesian Dream) kini berubah mindset setelah zaman reformasi bergulir dengan turunnya Presiden Soeharto dari tahta presiden akibat praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme. Saat ini, kebanyakan mimpinya orang Indonesia jika saya perhatikan ialah menjadi caleg atau menjadi abdi negara akibat kelesuan yang dialami di sektor swasta setelah hantaman badai krisis ekonomi tahun 1997 di Asia termasuk Indonesia dan krisis ekonomi dunia pada akhir-akhir ini. Saya bisa menyebut pemerintah di Indonesia saat ini yang menurut istilah pandangan saya lebih mengarah kepada safety building. Mengapa saya sebut safety building? Karena pemerintah di Indonesia saat ini lebih condong mengamankan, memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan abdi negaranya terutama terkait tunjangan dan jaminan hari tua setelah sekian lama di masa lalu kurang mendapatkan perhatian. Pemerintahan dahulu dianggap lebih banyak memperhatikan pada sektor swasta terutama industri dalam usaha menggenjot laju pembangunan ekonomi. Hal inilah yang mendorong motif kebanyakan masyarakat biasa di Indonesia (tidak semuanya) berubah dengan alasan keamanan dan kenyamanan mencari jaminan tunjangan hari tua dengan bekerja menjadi abdi negara. Namun baik sektor negeri dan sektor swasta saat ini semuanya saling bergantung sama lain jika dilihat dari fungsinya secara ekonomi karena para pengusaha yang membayar pajak ke negara dan negara memberikan kemudahan izin usaha bagi pengusaha. Negara mengolah hasil uang pajak tersebut untuk melakukan pengembangan sarana dan prasarana bagi aktivitas warga selain untuk menggaji para pegawai negerinya. Dalam kajian postingan saya kali ini lebih khusus melihat dari aspek perkembangan kondisi sosial masyarakatnya.


ilustrasi: Sosialisasi iklan calon legislatif

Mimpi orang Indonesia (Indonesian Dream) yang lain selain menjadi abdi negara adalah menjadi calon legislatif di parlemen. Ini fenomena sosial yang cukup menarik dan unik bagi saya setelah era zaman reformasi bergulir. Hal ini berkaitan perbedaan kualitas politisi di Indonesia dengan politisi di Amerika. Kualitas politisi di Amerika dilihat dan dipilih berdasarkan prestasi track record, kaderisasi partai yang jelas serta dianggap ahli menurut kemampuan bidangnya yang kebanyakan diambil dari kalangan aktivis, akademisi, veteran maupun pengusaha mapan namun hal ini jauh berbeda dengan kondisi kebanyakan politisi di Indonesia yang lebih bersifat spontan, sedikit kaderisasi,  tidak melihat latar belakang keahlian karena yang lebih diutamakan adalah populer untuk dapat meraup suara terbanyak dan terpilih menjadi anggota legislatif. Akibatnya ialah beban biaya politik menjadi lebih besar hanya untuk dapat melakukan proses sosialisasi kepada masyarakat. Mimpinya orang Indonesia untuk menjadi caleg lebih banyak didominasi para elite sosial yang sudah memiliki status seperti artis, bintang film, ataupun pengusaha mapan namun tidak sedikit ada juga yang berasal dari kalangan akademisi, militer maupun rakyat biasa. Namun masih menjadi harapan bagi rakyat Indonesia untuk mendambakan caleg yang amanah dan idealis yang berjuang tidak atas nama partai saja tetapi juga berjuang atas nama rakyat.

Motif untuk menjadi caleg antara orang Amerika dan orang Indonesia nampak jelas berbeda. Jika orang Amerika menjadi caleg karena sudah dianggap mampu dan menguasai keahlian bidangnya serta mempunyai motif rasa nasionalisme untuk memajukan bangsa dan negaranya yang dipilih berdasarkan prestasi track record-nya namun jika kebanyakan orang Indonesia menjadi caleg  (tidak semuanya) nampaknya saat ini lebih banyak menjurus kepada popularitas selain motif ekonomi sebagai tempat mencari nafkah agar dapat mengganti biaya kampanye yang sudah dikeluarkan di masa lalu ketimbang rasa idealisme. Akibatnya, jabatan publik dapat berbahaya jika diisi oleh orang-orang yang kompetensinya masih diragukan karena kebanyakan modal paling utama untuk menjadi caleg di Indonesia masih didominasi bentuk ‘modal populer’ agar dapat meraup suara terbanyak ketimbang ‘modal keahlian.’ Harapan saya, semoga caleg yang ada di Indonesia pada masa yang akan datang lebih banyak dilihat pada aspek ‘modal keahlian.’ Tulisan ini hanya sekedar analisa saya mengenai pemetaan dalam membandingkan perbedaan mimpinya orang Amerika (American Dream) dengan mimpinya orang Indonesia atau (Indonesian Dream) yang dilihat dari perkembangan kondisi sosial masyarakat pada saat ini. Pada intinya, semua pilihan entah itu di sektor negeri atau di sektor swasta sama baiknya selama digunakan untuk membangun dan memajukan bangsa.[]

*Nur Bintang adalah pengamat sosial dan budaya.


ooo

2 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus
  2. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus