Artikel

Selasa, 20 Agustus 2013

"DILEMA SEKS SEBAGAI SIMBOL PERADABAN"




Oleh: Nur Bintang*


“Logika manusia selalu dikalahkan oleh hasrat seksnya”
(Nur Bintang, pemerhati masalah sosial seksualitas)



Seks adalah satu kata yang penuh dengan berbagai penafsiran. Seks menurut salah satu filsuf Yahudi-Jerman yang bermukim di Amerika Serikat dalam tradisi Mahzab Frankfurt yakni Herbert Marcuse dalam bukunya ”Eros and Civilization’” mengungkap makna sosial-biologi mengenai perjuangan naluri manusia dan hati nurani manusia yang dianggap merasa tertindas karena berusaha mengikuti adat-istiadat dan norma yang berlaku dalam masyarakat (sejarah dipandang bukan sejarah perjuangan kelas melainkan melawan represif insting kita sebagai manusia karena sifat Eros yang membebaskan dan konstruktif). Keberadaan seks itu sendiri menurut hemat penulis memang sangat ‘dilematis’ bagaikan dua sisi mata pedang yang tajam bahwa seks di satu sisi dianggap sebagai bentuk kenikmatan ritual ajaran agama yang dijalankan dalam bentuk ikatan suci pernikahan namun di sisi lain kenikmatan seks juga dapat dianggap sebagai sumber dosa besar akibat dorongan nafsu yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia apabila dalam prakteknya dianggap menyimpang dari bentuk ritual agama yang sudah ditetapkan. Namun begitulah jika setiap individu mau diajak berpikir kritis memaknai akan seksnya. Seorang filsuf psikoanalisis Yahudi-Austria yang bernama Sigmund Freud melalui pemikirannya yang cukup kontroversial telah jauh hari menyatakan jika sejak saat masih kecil setiap individu manusia sudah dibekali insting atau naluri akan kebutuhan seksnya. Hal inilah yang mengakibatkan adanya rasa inferior (rendah diri) yang dialami kebanyakan wanita pada masa kecilnya akibat pengaruh kuat budaya patriarkhi yang menganggap wanita itu merasa berbeda dari kebanyakan teman laki-lakinya akibat tidak memiliki alat kelamin yang seperti dimiliki kebanyakan anak laki-laki seusianya. Freud sendiri juga berpendapat jika seks merupakan dasar dari masalah peradaban karena menganggap setiap manusia sebagai makhluk penyimpang yang memiliki sejuta fantasi seks yang aneh dan beraneka ragam bahkan filsuf sekaligus sosiolog Post-Strukturalis asal Perancis yakni Michel Foucault menganggap jika seks sebagai wujud relasi kekuasaan yang harus dibebaskan dari segala bentuk praktek penindasan dominasi kekuasaan.

Dominasi kekuasaan seks dapat dilihat dari sistem yang ada di lokalisasi prostitusi. Prostitusi dianggap wujud praktek peradaban kuno zaman purba manusia yang tertua di dunia hingga sampai akhir zaman nanti. Praktek di beberapa tempat lokalisasi prostitusi yang pernah disinggahi oleh penulis nampaknya memberi gambaran mengenai bentuk-bentuk sistem pola relasi kekuasaan tersebut yang meminjam dari gagasan pemikiran filsuf sosial kritis Yahudi-Jerman yaitu Karl Marx yang dimana dalam kacamata kajian Marxian terdapat bentuk eksploitasi penindasan relasi kekuasaan induk semang selaku pengusaha (borjuis) terhadap wanita pekerja seks yang bekerja sebagai buruh (proletar) akibat ketimpangan distribusi pendapatan ekonomi dan kesempatan bekerja yang tidak merata dan tebatas sehingga pada akhirnya memaksa wanita atas penggunaan alat kelaminnya sebagai komoditas bisnis yang diperdagangkan dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan uang dalam usaha untuk bertahan hidup dari tuntutan kebutuhan hidup yang semakin mendesak. Hal ini nampaknya dianggap sebagai wujud jalan terakhir atas segala alternatif pilihan terakhir yang berat hati harus dipilih dari para pelakunya (wanita pekerja seks) yang mengalami ‘dilema’ dan trauma ketika menjalankan profesinya tersebut.

Pada masa saat ini, nampaknya telah terjadi pergeseran makna seks dari setiap individu baik laki-laki ataupun wanita yang menjadi sebuah tahap ‘dilema’ baru. Sosiolog besar Inggris yakni Anthony Giddens berpendapat pergeseran makna budaya seks yang konservatif dimana selama ini hanya dominasi laki-laki yang selalu berkuasa akan kebutuhan seksnya terhadap wanita namun kini justru berbalik karena fenomena sosial saat ini yang terjadi kebanyakan di Barat jika para wanita banyak yang menuntut kebutuhan seksnya terhadap laki-laki dan makin maraknya kasus unik mengenai pemerkosaan yang dilakukan oleh wanita terhadap laki-laki yang terjadi di beberapa daerah di Afrika. Sangat nampak jika posisi laki-laki saat ini lambat laun dapat berubah menjadi obyek sumber kebutuhan seks dari para wanita. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan lokalisasi prostitusi laki-laki yang semakin semarak dan lambat laun mulai eksis menyaingi keberadaan lokalisasi prostitusi wanita yang selama ini selalu mendominasi di beberapa negara di Eropa (Barat). Pergeseran pameo dahulu bahwa pria menuntut cinta dalam bentuk seks dan wanita menganggap seks sebagai wujud cinta nampaknya kini sudah tidak relevan lagi untuk diungkapkan. Wajar jika fenomena sosial ini alangkah lebih baik disandingkan dengan pemikiran filsuf eksistensialisme Perancis yakni Jean Paul Sartre dalam bukunya “Seks dan Revolusi” bahwa pemaknaan seks secara bebas dan total hanya dapat dimaknai oleh kesadaran setiap individu manusia untuk mau menyatakan kemerdekaan diri atas orientasi seksualnya. Kebangkitan paham feminisme di Eropa mungkin salah satu bentuk contohnya yang melakukan resistensi terhadap penjajahan budaya patriarkhi dan memperjuangkan budaya matriarkhi yang nampaknya kini memberi celah terhadap pemetaan konflik dalam studi kebudayaan kontemporer.

Dilema seksualitas nampak dari adanya konflik kebudayaan matriarkhi versus kebudayaan patriarkhi yang sudah berlangsung sejak 6000 tahun yang lampau. Hal ini dapat ditelusuri dari pemikiran filsuf Yahudi-Jerman sekaligus seorang psikolog dan sosiolog dalam tradisi Mahzab Frankfurt yakni Erich Fromm mengenai hak ibu atas penciptaan laki-laki yang melakukan tafsir ulang atas pemikiran filsuf asal Swiss yakni Bachofen bahwa ikatan primordial dari manusia adalah ikatan terhadap ibu ketika mengasuh anak sejak kecil terutama terhadap anak laki-laki sebelum kelak anak laki-laki tersebut berubah menjadi dewasa dan mandiri hingga pada suatu saat akhirnya dapat merebut peran dan relasi sosialnya dari pengasuhan sang ibu. Paham feminisme saat ini, menurut penulis kebanyakan berusaha merebut kembali peran dan relasi sosial yang selama ini dianggap dominan hanya dimiliki oleh pihak laki-laki. Selain itu, Fromm juga berpendapat jika rasa cinta dan benci menjadi landasan karakter dasar dari hubungan laki-laki dan perempuan selain perbedaan fungsi peran seksual dari masing-masing jenis kelaminnya. Menurut Fromm, laki-laki dalam superioritasnya meletakkan seks sebagai simbol ego dan prestisenya yang hal ini sangat berbeda dengan wanita yang hanya meletakkan seks sebagai pemenuhan hasrat biologisnya.

Insting dan naluri seksual manusia yang pada dasarnya liar ini kemudian menjadi ‘dilema berkelanjutan’ maka diperlukan adanya pembatas dan pengatur dalam hal adab berperilaku yaitu diturunkannya agama untuk mengatur kehidupan keberadaban manusia. Hal ini sangat beralasan karena perbedaan pemaknaan seks dari setiap individu manusia. Berdasarkan sedikit ulasan buku karya Jared Diamond, seorang profesor dalam kajian fisiologi dari University of California, Los Angeles yang berjudul “Why is Sex Fun? The Evolution of Human Sexuality” bahwa pada dasarnya manusia adalah termasuk jenis spesies mamalia yang memiliki bakat perilaku untuk menyimpang jika dibandingkan dengan jenis spesies mamalia lain yang hanya memiliki motif melakukan seks untuk melestarikan keturunan/berkembang biak. Hal ini justru dilakukan dengan pemaknaan berbeda dari spesies mamalia yang dilakukan manusia yang lebih banyak melakukan seks sekedar motif untuk pemenuhan ambisi ego dalam fantasi kesenangan dan kebutuhan untuk berekreasi. Saya selaku penulis yang sudah cukup lama melakukan riset mengenai studi seksualitas rasanya membenarkan pernyataan tersebut. Beberapa wawancara yang penulis lakukan selama dalam kegiatan penelitian dahulu terhadap beberapa informan mengindikasikan bahwa kunjungan beberapa informan ke tempat lokalisasi prostitusi salah satunya adalah kebutuhan akan kesenangan dan rekreasi. Selain itu, ada penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti dari Researchers at National Antonomous University of Mexico yang saya baca dari situs detik.com yang ternyata hasil penelitian ilmuwan tersebut cukup mengejutkan kita semua bahwa sebuah hubungan cinta dari sepasang kekasih suatu saat pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata melainkan karena kandungan zat kimia di otak yang menyatakan rasa cinta itu telah habis. Rasa cinta murni berdasarkan perasaan hanya tidak lebih dari 4 tahun. Jika cinta telah berumur lebih dari 4 tahun maka yang tersisa hanya dorongan seks semata dan bukan cinta yang murni lagi yang berdasarkan perasaan saling menyayangi. Dalam hal ini nampaknya peran keberadaan fungsi dari masing-masing ‘agama’ dapat dilakukan untuk melakukan kontrol atas pemahaman diri setiap individu manusia terhadap pemaknaan seksnya.

Seksualitas dalam lingkup kajian kebudayaan postmodern saat ini nampaknya tidak terlepaskan dari sorotan gaya hidup manusia. Seks menjadi sesuatu hal yang dibela namun terkadang juga dibenci, dicaci tetapi juga dirindukan, memberi kenikmatan sekaligus menyiksa bahkan filsuf sekaligus sosiolog Post-Modern asal Perancis yaitu Jean Baudrillard pernah berkata jika hasrat merupakan wujud menikmati permainan seksual dunia tanpa batas karena kebutuhan manusia untuk berupaya memenuhi kebutuhan hasrat dan ambisinya tidak akan pernah habis untuk bisa merasa puas. Manusia dalam hasrat seksnya mengalami kecemasan dan kehidupan dilematis karena pada dasarnya manusia cenderung serakah dan egois namun dituntut untuk dapat hidup bersosial secara normal dan beretika di masyarakat yang pada akhirnya melahirkan manusia-manusia munafik yang berusaha menutupi rahasia keburukan jati dirinya serapat mungkin yang lambat laun justru akan menciptakan masyarakat yang penuh resiko apabila tidak disikapi secara arif dan bijaksana. Penulis dalam hal ini tidak bersikap skeptis melainkan hanya mengamati kondisi fenomena sosial yang sedang berkembang dan terjadi di masyarakat saat ini dan seperti yang sudah-sudah jika logika manusia nampaknya selalu dikalahkan oleh ambisi hasrat seksnya walaupun dalam hati kecil penulis selalu berkata, “Kapan logika dapat mengalahkan hasrat seksnya ? ”[]


*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus