Artikel

Sabtu, 14 Juli 2012

"AMAZING ABOUT SOCIAL SCIENCE (SOCIOLOGY)"




Ditulis oleh: Nur Bintang*




Perkembangan ilmu social (social science) sebagai ilmu yang mengkaji tentang interaksi antar manusia dan ilmu humaniora (ilmu yang mengkaji tentang aspek perilaku manusia) pada era millennium ini sangatlah pesat bahkan idealisme ilmuwan social untuk bertahan pada kajian disiplin ilmu yang dipelajari dan digelutinya sendiri saat ini saya anggap kurang relevan lagi. Pengkotak-kotakan berdasarkan idealisme disiplin ilmu sosial masing-masing suatu saat justru akan mencetak ilmuwan-ilmuwan social yang berpandangan “picik”, “sempit”, dan “kolot”. Kajian disiplin ilmu sosiologi, sejarah, filsafat, ekonomi, politik, komunikasi, antropologi, psikologi, kesehatan masyarakat, hukum, kajian budaya, hingga fenomena masyarakat jejaring (network society), E-Government pada kajian sosial bidang sosioteknologi, etc kini saling berkaitan satu sama lain. Bisa dibilang disiplin ilmu-ilmu social kini hanya terbatas benang tipis. Pengalaman saya memang mempelajari disiplin ilmu sosiologi dalam bidang keilmuan saya tetapi ketika melakukan praktek penelitian di lapangan ketika menggunakan penelitian evaluasi kualitatif pada pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat terhadap sebuah komunitas berbarengan itu saya juga melakukan pendekatan etnografi sebagai pengumpulan datanya dengan melakukan pengamatan dan pemetaan sosial (social mapping) yang cukup lama, berbaur, bergaul, bahkan tinggal bersama dengan masyarakat yang ada di lokasi penelitian selama kurun waktu tertentu sembari melakukan wawancara terhadap informan yang dianggap tahu perihal topik permasalahan yang sedang saya teliti. Setahu saya, pendekatan etnografi lazimnya dilakukan dalam melakukan penelitian budaya terhadap suku-suku tradisional pedalaman yang masuk dalam kajian ranah disiplin ilmu antropologi. Menurut saya itu hal yang lazim dan boleh-boleh saja saat ini selama analisisnya menggunakan cara pandang di dalam tradisi ilmu sosiologi. Sekedar share contoh pengalaman saya dulu juga pernah melakukan penelitian kualitatif dalam kajian Sosiologi Kesehatan (Sociology of Health) dengan meminjam teori dari kajian disiplin ilmu kesehatan masyarakat yakni health belief models sebagai specific theory dan menggunakan teori behaviorisme (tingkah-laku) dalam kajian bidang psikologi social yakni “interaksionisme simbolik” sebagai middle theory dengan tetap mengacu pada teori-teori besar klasik dalam kajian disiplin ilmu sosiologi sebagai grand theory bahkan ada kawan saya yang mendalami sosiologi tetapi lebih suka di dalam melakukan penelitian kajian budaya dalam bidang sastra. 




Sosiologi sebagai ilmu yang sangat universal dalam kajian disiplin ilmu-ilmu social bisa masuk ke dalam celah ranah disiplin ilmu social dan ilmu budaya manapun. Selain itu, kehadiran ilmu-ilmu sosial selain untuk melengkapi rumpun ilmu-ilmu sosial itu sendiri juga dapat melengkapi keberadaan ilmu-ilmu alam. Perkara penemuan "energi nuklir" pada ilmu fisika, penemuan "kloning" pada bidang ilmu biomedis (kedokteran) memang menunjukkan kemajuan terhadap dunia science namun itu semua tidak terlepas dari dampak sosial dari penemuan tersebut kepada masyarakat luas yang bersikap pro dan kontra. Disinilah peran ilmuwan sosial di dalam menelaah permasalahan penemuan (discovery) tersebut agar   dapat diterima dan dimanfaatkan secara humanis berdasarkan nilai-nilai sosial. Seorang ilmuwan sosial terutama sosiolog harus terus aktif dan sensitif menangkap fenomena sosial di lingkungan sekitar karena pengkajian dalam ilmu-ilmu sosial senantiasa tidak pasti, terus berubah (dinamis) dan terkini (update). Perkembangan masyarakat yang terus berubah secara dinamis tentu akan membuat semakin kompleks permasalahan sosial yang dikaji sehingga dalam ilmu sosial terutama sosiologi banyak lahir teori-teori sosial baru yang terus berkembang mengikuti arah perkembangan masyarakat yang semakin terkini, kompleks, dan dinamis. Hal ini jauh berbeda dengan ilmu-ilmu alam yang dalam hal ini saya akan memberi contoh adalah teori relativitas yang ditemukan Einstein, fisikawan Yahudi-Jerman yang pada tahun 1942 menjadi pionir dalam pembuatan dan penemuan atom yang bergabung dalam "Manhattan Project" dengan menciptakan bom atom nuklir  "fat man" dan "little boy" yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) pada era Perang Dunia II. Gagasan Albert Einstein di dalam "The Special Theory of Relativity" ialah analisis secara mekanistis maka terdapat komponen utama yakni zat, gerak, ruang, dan waktu itu bersifat 'relatif' dan tidak absolut, bahkan zat itu tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi kemudian lahir "teori relativitas: E=mc2". Teori ini berlaku universal di seluruh dunia (tanpa terkecuali) dalam kajian tradisi ilmu-ilmu alam selama masih belum ada penelitian ilmiah terbaru yang dapat menunjukkan hasil yang lebih pasti. Penemuan teori relativitas saat ini berlangsung stagnan (tetap) dan tidak mengalami perubahan seiring perkembangan zaman karena teori ini bersifat "pasti" kebenarannya serta tidak bersifat dinamis seperti lain halnya dalam kajian ilmu-ilmu sosial yang terus bergerak serta berkembang dinamis (berubah) seiring perubahan waktu, perubahan tempat dan perubahan sosial-budaya dalam masyarakat terutama dalam kajian disiplin ilmu sosiologi.

Dalam kajian ilmu budaya (the humanities) maka semua disiplin ilmu pengetahuan sosial bisa masuk untuk menganalisis fenomena sosial yang ada mulai dari musikologi, sastra, sosiologi, antropologi, multikulturalisme etc. Peradaban manusia kini terus melaju cepat pada arah kemajuan sehingga semua sekat-sekat dalam disiplin ilmu sosial saat ini dinilai terasa semakin kabur karena keberadaan ilmu-ilmu social kini telah lahir untuk melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Ilmuwan-ilmuwan social saat ini diharapkan dapat bersikap jauh lebih bijak di dalam memandang hal ini dengan semakin berpandangan luas bahwa hadirnya berbagai lintas disiplin ilmu maka akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan pada bidang keilmuan tersebut. Ilmu sosiologi sekarang tidak hanya melakukan kajian soal interaksi sosial antar manusia (masyarakat) dalam arus modernisasi, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan sosial akan tetapi juga mulai masuk pada ranah budaya (culture) seperti; interpretasi terhadap bahasa, simbol-simbol, teks-teks tulisan, dan gambar yang didistribusikan oleh media massa saat ini, interaksi masyarakat tradisional dalam lingkup pedesaan yang biasa dianalisis dalam kajian disiplin ilmu anthropologi kini bisa juga dianalisis secara sosiologis. Hal ini semua tergantung sudut pandang ilmuwan social masing-masing di dalam melakukan pengamatan analisisnya. Sudah saatnya kini lahir ilmuwan-ilmuwan social yang berpandangan luas dan menerima keberagaman ilmu di dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan jika kunci untuk masuk dan memahami dunia ilmu sosial adalah "bahasa" sedangkan kunci untuk masuk dan memahami dunia  ilmu alam adalah "matematika". Ilmu sosiologi selamanya akan terus melakukan metamorfosa ke arah lebih baik dengan memberi masukan solusi positif mengenai problem dunia sosial yang dialami masyarakat seiring berlangsungnya arus perkembangan peradaban manusia. []

*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Selasa, 03 Juli 2012

"SAJAK ANAK MUDA" by: WS. RENDRA


The Great Poet of Indonesia: WS. Rendra



Kata Pengantar: Nur Bintang*

Ketika saya membaca puisi dari almarhum WS. Rendra maka hati saya sangat terasa tersentuh membaca makna arti dari setiap kata demi kata hingga pada akhir sajak kalimatnya. Beliau adalah seorang sastrawan, budayawan, dan penyair favorit saya.. Saya juga mempunyai hobi menulis sajak puisi tetapi tetap bila dibandingkan dengan beliau maka saya tidak ada apa-apanya dan masih harus lebih banyak untuk belajar lagi.. hehehe...^^  Silakan anda tafsirkan sendiri makna arti puisi dari almarhum WS. Rendra ini. Beginikah keadaan para lulusan ilmuwan sarjana dan kondisi pendidikan di negara kita. Lagi-lagi soal perkara "ETIKA/ETHIC" yang dalam filsafat selalu menganjurkan harmonisme nilai-nilai luhur kemanusiaan yang nampaknya sudah semakin dilupakan dan tidak diperhatikan lagi karena nilai-nilai sosial kemanusiaan sekarang telah bergeser dan diganti oleh uang dan uang... jabatan dan jabatan.. setiap kehormatan sesorang dihargai melalui simbol status/kelas sosial jabatan dan kekayaan tanpa melihat rasa jiwa kemanusiaan dalam diri orang tersebut. Sedih rasanya hati ini, namun begitulah realitas sosial saat ini sebenarnya. Tidak salah juga jika ada penyair Jawa yakni Ronggowarsito yang menamai salah satu kumpulan syairnya dengan judul "Zaman Edan" sebuah puisi kritik sosial yang membedakan dengan sajak puisi dari almarhum WS. Rendra hanya soal perbedaan sejarah waktu yang tidak kalah gilanya! Puisi kritik sosial yang menggugah jiwa. Silakan baca lalu tafsirkan sendiri makna puisinya.[]

*Nur Bintang adalah pengamat sosial dan budaya


Sekolah "Akademia" yang didirikan Plato pada tahun 385 SM di Athena (Yunani)
 yang dilukis oleh Raphael Sanzio pada tahun 1510 pada salah satu tembok di Vatikan


"SAJAK ANAK MUDA"
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hapalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!

Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tata warna
yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara.

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

(WS Rendra, Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977)

Senin, 02 Juli 2012

CULTURAL STUDIES



"This is handout about "Cultural Studies" from my lectures.
 I summarize this handout when I was studying at Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia".
 
Summarized by: Nur Bintang*




Budaya adalah sekumpulan cerita yang menceritakan kepada kita tentang diri kita. Berbasis pada definisi ini kajian kebudayaan terlihat  hampir mencakup segalanya. Anthropolog terkenal C. Geertz dari Universitas Harvard, Amerika Serikat mendefinisikan budaya sebagai suatu sistem makna atau simbol yang disusun dimana aktor individu menafsirkan dan memaknai sendiri dunianya. Pendekatan budaya yang dilakukan Geertz bersifat hermeunetic, dengan melihat budaya sebagai teks-teks yang harus ditafsirkan. Kebudayaan memiliki makna yang dimiliki secara kolektif di dalam suatu kelompok bukan milik makna seperorangan individu. Kebudayaan ini yang kemudian diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga tindakan manusia mempunyai makna yang dapat dibaca sama seperti halnya ketika kita membaca sebuah teks tulisan dalam sebuah buku. SUBJEK CULTURAL STUDIES adalah inter-disiplin dengan meminjam secara bebas disiplin ilmu sosial dan seluruh cabang humaniora dan seni (antropologi, psikologi, linguistik, kritisisme sastra, teori seni, musikologi, filsafat, ilmu pasti, multikulturalisme dan sosiologi). FOKUS STUDI CULTURAL STUDIES berfokus pada kebudayaan modern dan postmodern, dan ada dalam konteks masyarakat industrial/kapitalisme modern. Kebudayaan dimaknai sebagai makna, representasi, simbol, dan identitas, sekaligus sebagai bentuk situs dan praktek. Dari segi perspektif dan paradigma "cultural studies" adalah Neo Marxian, Neo Weberian, Neo Durkhemian, Psikoanalisis, Feminisme, Post-Strukturalisme, dan Post-Kolonial.

Antropolog Clifford Geertz


PRAKTEK CULTURAL STUDIES: Praktek-praktek kebudayaan dan hubungan-hubungan kekuasaan, Memahami budaya dan menganalisis konteks politik-sosialnya, Upaya intelektual dan pragmatis, Memahami dan merubah struktur-struktur dominasi masyarakat industrial, Memahami dan merubah struktur-struktur dominan masyarakat industrial. ASAL-USUL CULTURAL STUDIES adalah melalui lembaga "British Cultural Studies". Istilah "cultural studies" diturunkan dari Center for Contemporary Cultural Studies (CCCS) dari Universitas Birmingham tahun 1964. TOKOH CULTURAL STUDIES: Richard Hoggart, Raymond William, Thompson, Stuart Hall. Teori Hegemoni dari neo-marxis asal Italia, Antonio Gramschi memegang peran di CCCS, bahwa kelompok subordinatif aktif melakukan resistensi (tidak positif) dalam menghadapi dominasi politik (perlawanan subaltern). Gramschi menjelaskan dengan pendekatan "cultural hegemony" (budaya sebagai instrumen kontrol kekuasaan) yang kemudian berkembang mengkaji berbagai bentuk penindasan (hegemoni dan dominasi) dalam masyarakat kapitalis modern. Di era globalisasi ini, kajian budaya menganalisa bentuk-bentuk resistensi global dan lokal terhadap hegemoni dunia Barat.

TINJAUAN UMUM CULTURAL STUDIES: Meneliti praktek-praktek kebudayaan dalam kaitannya dengan kekuasaan, Memahami konteks sosial dan politikdalam budaya termanifestasi, Keduanya merupakan objek studi dan lokasi kritisme dan tindakan politik, Upaya rekonsiliasi pembagian kerja pengetahuan (teori dan praktek), Evaluasi etis masyarakat modern dan garis radikal tindakan politik dengan menjadi seorang "intelektual organik" dengan ikut terjun  langsung berjuang bersama masyarakat yang tertindas.

KAJIAN BUDAYA DAN MEDIA: Melihat relasi kekuasaan (Teori hegemoni dari Gramschi dan Relasi Kuasa dari Pierre Bourdieu) dengan melihat sekumpulan program-program akademik yang mengkaji isi, sejarah, makna, dan pengaruh berbagai media. Tradisi dari ilmu sosial dan humaniora, tumbuh dengan disiplin ilmu komunikasi massa, ilmu komunikasi, dan kajian komunikasi. Dari 'relasi kuasa' ini yang nanti menurut Adorno (tokoh teori kritis dari Mahzab Frankfurt) yang nanti akan menentukan high culture dan low culture. PEMETAAN : REALITAS=>MEDIA=>MEDIATED REALITY=>REPRESENTASI. Dalam kajian penelitian Cultural Studies lazimnya menggunakan ANALISIS WACANA/DISCOURSE/CDA dan SEMIOTIKA dalam kajian Strukturalis dan Post strukturalis. KARAKTER CULTURAL STUDIES: Praktek-praktek kebudayaan dan hubungan relasi kekuasaan, Memahami budaya dan menganalisis konteks politik-sosialnya, Upaya intelektual-pragmatis.

PENDEKATAN PENELITIAN: Strukturalisme dan Post-Strukturalisme serta Post-Kolonial pada kajian linguistik melalui penelitian semiotika dan hermeunetika dengan membuka tabir tafsir atas tanda serta, Analisis Wacana dengan memperhatikan representasi, the other (yang menjadi minoritas/subordinasi) contoh: kata makna "Tuhan" mewakili kebaikan dan kata makna "Iblis" mewakili kejahatan, dengan melihat pada oposisi biner (the other), apa yang tidak kelihatan bisa dipahami dari yang kelihatan, konstruksionis dan bukan esensialis. Teori bukanlah representasi akurat mengenai realitas fenomena sosial-budaya (Konstruktivistis). Kebenaran sesungguhnya didapatkan dari konstruksi aktor melalui observasi langsung dengan melalui penelitian wawancara atau melalui analisis tekstual. Metode penelitian kualitatif seperti etnografi yang dilakukan para antropolog; hermeunetik kajian tafsir kritis dari teks; semiotika kajian tafsir kritis atas sign/tanda dari gambar, simbol, tulisan, film; teori narasi, interaksi simbolik, pendekatan dekonstruksi/CDA.

*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber Referensi lengkap yang dapat menjadi rujukan:

Chris Barker. (2009). "Cultural Studies". Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Minggu, 01 Juli 2012

"ABOUT CRITISISM THEORY IN SOCIOLOGY"


Ditulis oleh: Nur Bintang*

"Saya dalam pembahasan teori social ini membahas tentang teori kritis dalam ilmu social terutama dalam kajian disiplin ilmu sosiologi. Tanpa panjang-lebar semoga catatan kecil saya bisa membantu dan menjelaskan pemahaman di dalam teori kritis social. Perlu diingat tulisan saya ini bukanlah tulisan ilmiah melainkan hanya sekedar share pengetahuan tentang teori kritis di dalam ilmu sosiologi. Semoga pemetaan teori kritis dari saya ini bisa membantu pembaca semua. Tulisan style saya tetap menggunakan gaya lugas, ringkas dan sederhana. Namun yang harus diperhatikan pembaca bahwa ada perbedaan antara Marxian dan Marxis. Saya akan jelaskan bahwa "Marxian" adalah cara pandang/kacamata terhadap pemahaman ajaran Karl Marx (tidak/belum tentu diyakini untuk dilakukan) sedangkan "Marxis" adalah sebuah bentuk idiologi/keyakinan terhadap ajaran Karl Marx yang harus dilakukan. Saya menyampaikan hal ini karena banyak orang yang terjebak dan salah menggunakan istilah "marxian" dan "marxis". Catatan Penting! Ajaran pemikiran Karl Marx bukan untuk diyakini sebagai idiologi tetapi lebih baik digunakan sebagai alat analisis pemecahan problem/masalah sosial saja. Banyak kelemahan-kelemahan di dalam teori Karl Marx yang dianggap utopis (tidak realistis) seperti mewujudkan masyarakat tanpa kelas (komunisme) adalah hal yang sangat mustahil di dalam dunia sosial dimana sistem pelapisan sosial, stratifikasi sosial dalam masyarakat sudah sangat lama berlangsung sejak zaman awal lahirnya peradaban manusia tetapi walaupun demikian teori Karl Marx sampai saat ini masih cukup relevan sebagai alat analisis di dalam kajian ilmu-ilmu sosial. Semoga dapat membantu untuk pembaca semuanya dalam memahami pemikiran ilmuwan sosial yakni Opa Karl Marx."



*WHO IS KARL MARX ?

Karl Marx (1818-1883) salah satu tokoh filsuf beraliran positivis yang melakukan kajian prediksi terhadap perubahan sosial masyarakat di masa yang akan mendatang. Dalam cerita biografi hidupnya Karl Marx sebenarnya adalah seorang "pengangguran intelektual" sampai akhir hayatnya (walaupun Karl Marx pernah bekerja sebagai redaktur di sebuah perusahaan penerbitan koran namun itu tidak berhasil menolong kehidupan ekonominya karena Karl Marx termasuk seorang pekerja pemalas yang enggan mencari pekerjaan. Pekerjaan yang didapatkan Karl Marx di perusahaan penerbitan koran itu juga karena dibantu oleh seorang kawannya sementara Karl Marx sendiri sebenarnya tidak mau giat bekerja untuk mencari uang dan cenderung hanya bisa meminta uang dengan paksa dan bergantung hidup dari nafkah kerja kedua orang tuanya yang sudah tua). Karl Marx dahulu semasa studi di universitas dianggap memiliki gaya hidup yang sangat bebas dan boros karena selalu menghambur-hamburkan uang biaya hidup yang dikirimkan oleh kedua orang tuanya. Karl Marx memiliki kegemaran aneh yaitu suka berhura-hura menghabiskan semua uang kiriman dari orang tuanya dengan mengadakan acara pesta meminum bir bersama kawan-kawan di kampusnya dulu. 

Semua karya-karya Karl Marx (termasuk buku fenomenal Karl Marx yang berjudul 'Das Capital' jilid 2 dan jilid 3) sebenarnya adalah tulisan rangkuman semua pemikiran Karl Marx yang ditulis oleh Friedrich Engels (sahabat intelektual Karl Marx yang juga seorang pengusaha kaya pemilik sebuah pabrik tekstil di Manchester, Inggris yang mempunyai rasa simpati dan empati terhadap kondisi kemiskinan kaum buruh kala itu). Selain menulis dan merangkum semua pemikiran Karl Marx ternyata Engels juga ikut membiayai penerbitan buku-buku pemikiran Karl Marx. Bisa dibilang bahwa Engels termasuk orang yang sangat berjasa bagi Karl Marx secara pribadi karena Engels selalu membantu semua biaya kebutuhan ekonomi Karl Marx dan istrinya. Keunikan Karl Marx semasa hidup ialah mempunyai kepribadian yang tidak lazim yaitu tidak suka merawat diri dan bahkan jarang mandi, suka membuang sampah sembarangan, dan tidak pernah membersihkan kamar tidurnya sendiri sehingga penampilan Karl Marx cenderung kumal dan lebih nampak seperti seorang gelandangan namun dunia akademis tetap menaruh hormat atas segala pemikirannya yang mampu mengguncang dunia dan membangun tradisi filsafat kritis di dunia. 

Kritik saya untuk Karl Marx bahwa ternyata pemikiran kritis anti kemapanan yang dicetuskan oleh Karl Marx selama ini sebenarnya sangat bertolak belakang dengan pola gaya hidup Karl Marx sendiri yang lebih suka berfoya-foya dan berpesta menghabiskan semua uang hanya untuk membeli botol bir dan selain itu, disaat Karl Marx berjuang untuk menghapuskan eksplotasi ekonomi para pemodal terhadap kaum buruh tapi ternyata dalam kehidupan sehari-hari, Karl Marx justru mengeksploitasi kedua orang tuanya untuk kepentingan ekonomi Karl Marx sendiri. Dalam hal ini saya mengambil kesimpulan bahwa Karl Marx tidak konsisten dengan pemikiran yang diperjuangkannya selama ini dan bahkan teori revolusi proletariat yang diramalkan Karl Marx dan Engels bakal terjadi di seluruh daratan Eropa ternyata terbukti gagal total bahkan tesis Karl Marx sendiri berhasil dipatahkan oleh tesis dari Max Weber mengenai spirit kapitalisme suci dari pengusaha sebagai bagian dari etika Protestan untuk membantu sesama yang akan mengalami metamorfosa dalam perkembangan kapitalisme di Eropa. 

Saya hanya bisa tertawa dan kasihan jika melihat aktivis kampus muda yang masih lugu dan sebegitu buta mengidolakan Karl Marx dengan berjuang mengatasnamakan 'revolusi rakyat' tanpa memahami biografi hidup Karl Marx sendiri yang sangat bertolak belakang dengan pemikiran sucinya selama ini. Hal ini karena bila anda meyakini ajaran Karl Marx sebagai jalan hidup atau idiologi maka sama halnya anda bermimpi untuk menjadi seorang 'pengangguran'. Saran saya ambil saja sisi positif pemikiran filsafat kritis dari Karl Marx yaitu keberpihakan kepada golongan lemah dengan tidak hanya bisa mengkritik dan berteori tetapi juga memberi jalan solusi sehat (tanpa revolusi kekerasan) dengan bertindak elegan dan jangan sekali-kali menjadikan teori Karl Marx sebagai idiologi buta atau jalan hidup karena semua tesis original pemikiran Karl Marx sudah terbukti utopis dan gagal yang hanya menghasilkan kekerasan revolusi melalui pertumpahan darah yang sia-sia dan berakhir pada pola pemerintahan yang dipimpin secara totalitarian. Revisi terhadap pemikiran Karl Marx adalah mutlak oleh beberapa pemikir setelah zamannya. 

*KRITISME KARL MARX MELAHIRKAN GAGASAN TEORI KONFLIK:



Karl Marx merupakan seorang filsuf Yahudi-Jerman yang sangat tertarik pada masalah ekonomi terutama kajian eksploitasi industri terhadap kaum buruh bahkan selama hidupnya Karl Marx selalu menjadi 'buronan pelarian' karena banyak negara yang ingin menangkapnya akibat ketakutan penguasa negara tersebut akan timbulnya revolusi dari rakyat akibat pengaruh hasil tulisan pemikiran-pemikiran kritis dari Karl Marx di media massa. Karl Marx sangat terpengaruh oleh filsafat dialektika dari George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dan Ludwig Feuerbach (1804-1872) seorang filsuf sekaligus anthropolog Jerman aliran filsafat hegelian muda yang sangat berminat pada studi agama. Teori Kritis adalah gagasan idealisme pemikiran Karl Marx ketika masih muda dulu. Teori Kritis berasal dari tradisi-tradisi ilmu social dan humaniora. Teori Kritis ini dapat digunakan di dalam lintas disiplin ilmu (interdisipliner ilmu). Teori Kritis di dalam ilmu sosiologi biasanya sering digunakan untuk menguji dan mengkritik masyarakat, budaya, dan kesusasteraan. Logika filsafat Karl Marx mengkritisi kondisi filsafat pada saat itu yang hanya bisa berpikir dengan logika tetapi tidak bisa melakukan tindakan untuk merubah kondisi/tatanan masyarakat secara kritis dan lebih adil. Marx muda mengejek kondisi filsafat pada saat itu sebagai “Kemiskinan Filsafat”. Dialektika menurut Marx adalah Tesis - antithesis – sintesis - tesis baru - antitesis baru - sintesis baru. Marx tersesat karena menjadikan teori sebagai idiologi dengan mendorong masyarakat pada wujud sosialisme-komunisme. Tesis Kesadaran Semu dari Karl Marx menganggap bahwa "agama adalah candu bagi masyarakat" maksudnya agama telah dijadikan senjata oleh kaum pemilik modal untuk melemahkan (meninabobokan) pergerakan kaum buruh agar selalu senantiasa bersabar (tidak melawan) dan terus berdo'a dalam menghadapi segala eksploitasi yang dilakukan kaum pemilik modal tanpa adanya usaha perlawanan yang nyata dari kaum buruh. Buruh diharapkan Karl Marx untuk berani melawan penindasan kapitalis/pemilik modal dengan tidak seraya bersabar dan hanya berdo'a saja karena dininabobokan oleh ajaran dogma agama tetapi benar-benar harus melawan ketidakberdayaan tersebut melalui gerakan-gerakan perlawanan dengan jalan "REVOLUSI" mengambil alih hak atas kepemilikan alat-alat produksi dari para kaum borjuis dan pemilik modal yang dianggap telah menghisap keringat kerja keras kaum buruh dengan upah murah dan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari hasil produksi yang dikerjakan kaum buruh. Revolusi Proletariat dari Marx terbukti gagal dan malah justru memunculkan kepemimpinan diktaktor baru dalam negara-negara penganut idiologi sosialisme-komunisme. Adapun pemahaman perkembangan logika Karl Marx yang digunakan di dalam ilmu kritis adalah sebagai berikut:
-          Marx muda = menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritis dalam filsafat untuk merubah dan membebaskan (WHAT, WHY) sebagai ontology dan (HOW) sebagai epistemology.
-          Marx tua = Memaksakan idiologi pada paham sosialisme-komunisme (masyarakat tanpa kelas).
-     Idealisme Marx = kesadaran ditentukan oleh kondisi material vs Idealisme Hegel = kesadaran yang menentukan kejadian/kenyataan.
-          
      *MARXISME ORTODOKS:
   
    Marxisme Ortodoks (Leninisme-Stalinisme)= Pemahaman komunisme dari hasil pemikiran Marx tua yang akhirnya lalu dianut dan diterapkan secara membabi buta oleh Lenin, Troutsky, dan Stalin yang tergabung dalam Partai Bolshevik pada "Revolusi Februari" dan "Revolusi Oktober" tahun 1917 yang menurunkan rezim kekuasaan Kaisar Tsar Russia dalam usaha mengusung cita-cita membentuk negara sosialisme-komunisme. Pemerintahan Marxisme Ortodoks (Leninisme-Stalinisme) di Russia dianggap gagal karena tidak berhasil mewujudkan revolusi proletariat seperti apa yang diramalkan Karl Marx dan Engels di Eropa justru di bawah rezim partai komunis, pemahaman marxisme ortodoks di Russia telah menjelma menjadi pemerintahan "totalitarian" dipimpin seorang penguasa kharismatik bergaya diktaktor (Vladimir Ulyanov Lenin dan Joseph Stalin adalah keturunan Yahudi yang berhasil menjadi pemimpin besar revolusi, Partai Komunis di Russia-Uni Soviet) yang suka menindas rakyat secara semena-mena terutama kekejaman terhadap para buruh tani di Rusia hingga mengakibatkan kelaparan massal dimana-mana akibat dari semua lahan tanah pertanian, alat-alat produksi pertanian, bahkan hasil produksi pertanian disita secara paksa dibawah todongan senapan tentara atas nama negara sehingga hal tersebut menimbulkan pertumpahan darah bagi pihak-pihak yang berani melawan kebijakan negara terutama dari para tokoh agamawan, akademisi dan pemilik tanah yang berakibat jatuhnya banyak korban di pihak rakyat sipil. Lenin dan Stalin sendiri berdalih bahwa kekerasan yang dilakukan negara atas restu perjuangan semangat revolusioner seluruh kaum buruh industri di Rusia dalam usaha memerangi kapitalisme global yang dipimpin Amerika dan Eropa Barat. Ironisnya, sebenarnya justru dahulu perjuangan revolusi 1917 di Rusia tersebut lebih banyak dilakukan atas dukungan dari rakyat Rusia yang berprofesi sebagai buruh tani. Pemahaman Marxisme Ortodoks (Leninisme-Stalinisme) dianggap telah melenceng dari ajaran Marx yang sesungguhnya oleh golongan Neo-Marxis "Mahzab Frankfurt" di Jerman yang berusaha mengkritisi ajaran Marx sekaligus meluruskan (merevisi) ajaran Marx tradisional yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi zaman. Neo-Marxis  (Mahzab Frankfurt) di Jerman sangat menentang terhadap ajaran Marxisme Ortodoks (Leninisme-Stalinisme) yang dianggap tidak beradab dan tidak bermoral.
     
           Vladimir Ulyanov Lenin 

    
           
     *ANTONIO GRAMSCHI SEBAGAI BAPAK 'NEO-MARXIS':
    
    Antonio Gramschi, seorang teoritisi marxis dari Italia yang dulu sempat diasingkan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup (meninggal dalam masa tahanan pada tahun 1937) di era rezim pemerintahan diktaktor fasisme Italia yaitu Benito Mussolini pada era Perang Dunia II karena dianggap sebagai "pemberontak" dan pemikirannya sangat membahayakan bagi jalannya keberlangsungan pemerintahan fasis Benito Mussolini. Antonio Gramschi berusaha mengkritisi kelemahan-kelemahan marxisme ortodox dengan melakukan analisis penyebab kegagalan revolusi proletariat. Konteks hegemoni menjadi senjata strategi perubahan social ampuh dari Gramschi dengan merebut hegemoni kultural dengan menyingkirkan hegemoni kaum borjuasi yang menindas.  Gramschi melihat budaya sebagai ekspresi idiologi yang melindungi dan mempromosikan kepentingan kelas tertentu yang intinya bahwa budaya tidaklah netral karena alat utama yang menyokong hegemoni adalah "media massa" sebagai pusat terciptanya produksi akal sehat/nalar umum (common sense) dalam kehidupan sehari-hari. ex: Propoganda Amerika Serikat melalui media massa milik mereka yang sudah mengglobal terutama stasiun TV "CNN" dan Majalah "TIME" untuk menggiring opini publik dunia dengan mewacanakan bahwa Saddam Hussein adalah poros setan yang harus diperangi karena memiliki senjata pemusnah massal yang membahayakan perdamaian dunia walaupun dalam kenyataannya setelah invasi Amerika ke Irak tidak ditemukan satupun senjata pemusnah massal yang dimaksud. Hegemoni  merupakan negoisasi antara kelas yang dominan dan kelas yang dikuasai mengenai apa yang harus diyakini dan tidak oleh kelas yang dikuasai.  Budaya, idiologi, dan hegemoni selalu berada dalam pandangan Gramschi. Hegemoni bisa digunakan oleh kepentingan proletar dengan melakukan kerjasama bersama kelompok-kelompok yang ditindas lainnya. Revolusi bisa dilakukan dan dicapai jika terjadi kesepakatan yang diterima secara luas oleh kelompok-kelompok tertindas lainnya untuk berjuang bersama-sama melawan penindasan (class alliance).  Intelektual Organik dicetuskan Gramschi yang artinya peran cendekiawan/intelektual dari akademisi universitas ataupun intelektual yang bukan berasal dari kalangan akademisi universitas namun mempunyai keahlian untuk dapat mengamati, menafsirkan, dan terlibat dan berpihak serta melakukan gerakan perubahan bersama kaum tertindas. Marxisme fundamentalis (ortodox) melihat kelas versus kelas, sedangkan Gramschi melihat "class alliance". Antonim dari 'Intelektual Organik' adalah 'Intelektual Tradisional' yaitu cendekiawan/intelektual yang mengabdikan dirinya kepada kepentingan profit dari sebuah lembaga perusahaan yang cenderung tidak melakukan gerakan perubahan masyarakat bersama kaum tertindas.
     Antonio Gramschi



     -Mahzab Frankfurt = Sekumpulan pemikir ilmuwan social Yahudi-Jerman yang mengembangkan tradisi kritis berbasis Neo-Marxisme dan meneruskan kritik tradisi Kant terhadap positivisme, Respon terhadap kelemahan dari teori Karl Marx, kegagalan buruh dan kekuasaan Hitler di Jerman, Mahzab Frankfurt berusaha membebaskan manusia dari keirasionalan masyarakat yang selalu patuh pada sistem tanpa mau mengkritisinya, Menentang neo-positivisme yang selalu mendewakan ilmu pengetahuan alam dengan mengesampingkan sisi humanis dari manusia di dalam masyarakat, Berusaha tidak ingin berpikir dalam tataran ide namun harus bisa terwujud di dalam realitas, Teori kritis mahzab Frankfurt tidak bebas nilai (netral) seperti teori tradisional (positivisme dan neo-positivisme) tetapi mempunyai sikap keberpihakan (tidak netral) yang harus dipersoalkan secara kritis (emansipatoris/membebaskan), anti-revolusi, Mahzab Frankfurt mengawinkan teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud dengan teori kritik ekonomi dari Karl Marx.
      
     Para filsuf Frankfurt School


*PERKEMBANGAN TEORI KRITIS DALAM FRANKFURT SCHOOL (MAHZAB  FRANKFURT):
A. Tokoh Pemikir Mahzab Frankfurt (Generasi Pertama):

Pemikiran para ilmuwan sosial dari Mahzab Frankfurt generasi pertama selalu melihat ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk-bentuk penindasan. Mahzab Frankfurt sangat menekankan fokus kajiannya pada persoalan budaya. Budaya saat ini tidak terlepas dari distribusi media massa sebagai industri informasi yang bersifat "tidak netral" karena dimiliki dan dikuasai oleh pemilik modal media massa. Media massa digunakan sebagai alat oleh pemiliknya untuk menyebarkan kepentingan idiologis dan mengeksploitasi para wartawan untuk meliput berita sesuai dengan kepentingan idiologi dari pemiliknya. Masyarakat akan mengkonsumsi berita-berita dari media massa sesuai liputan berita yang diberitakan dan seolah-olah menjadi pembaca atau penonton pasif dan membenarkan berita-berita yang terus dikonsumsi dari media massa tanpa mau mengkritisinya. Hal inilah yang menimbulkan kesadaran masyarakat dari pengaruh media massa sebagai "kesadaran palsu" atau "false conciousness". Media digunakan para pemiliknya untuk menyebarkan idiologi kelas tertentu yang berkuasa untuk menindas kelas-kelas tertentu.  Tokoh pendiri sekolah Frankfurt yakni Hokheimer dan Adorno menuliskan perihal kritik kebudayaan melalui karya mereka yang berjudul "The Culture Industry-Enlightenment as Mass Deception" dalam analisisnya mengenai "kritik budaya industri". Manusia tidak memiliki kebebasan memilih karena semua sudah ditentukan oleh budaya industri. Theodor Adorno memberi konsep 'Negativa Social' ketika manusia sebagai pencipta teknologi berubah kedudukannya sebagai budak yang diatur dan dikendalikan oleh teknologi di dalam perkembangan budaya modernitas dan budaya massa (pop culture). Theodor Adorno memandang rendah budaya populer (pop culture) yang dianggap konservatif. Pemikiran dari tokoh-tokoh teori Mahzab Frankfurt sangat besar di dalam tradisi socratian-marxian. Kebudayaan saat ini dianggap oleh pemikir Mahzab Frankfurt tidak terlepas dari kapitalisasi dalam meraih profit/keuntungan yang sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan mitos, legenda, tokoh, cerita rakyat yang menarik perhatian orang-orang untuk dikomersilkan agar meraih keuntungan dengan menjadikannya sebagai tempat wisata bersejarah, tempat belanja, wisata perjalanan (napak tilas), talkshow, dari seorang tokoh saat ini atau tokoh legenda dalam sejarah, bahkan cerita mitos atau legenda tersebut diangkat dan direproduksikan kembali ke dalam bentuk karya-karya seni seperti; novel fiksi atau non-fiksi, film, musik, patung, dan lukisan etc dengan tujuan komersil untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan mendistribusikannya kepada pasar-pasar baru melalui media massa. Para ilmuwan sosial Mahzab Frankfurt kemudian mengkritik dan menafsirkan teks-teks yang telah didistribusikan media massa tersebut secara kritis bahwa dibalik cerita mitos dan legenda yang diangkat ke dalam karya seni/budaya tersebut ada motivasi terselubung dari keberadaan relasi kekuasaan dan idiologi yang dominan. Kapitalisme dianggap mereproduksi ulang budaya dan menjadikannya sebagai komoditas yang dijual kepada khalayak dengan menjadikannya ikon sebagai bagian dari budaya populer (pop culture)/ budaya massa yang siap disebarkan media massa sebagai wujud nyata "pencerahan semu kapitalisme".  Pendekatan penelitian yang biasa dilakukan dalam Mahzab Frankfurt yang sudah masuk dalam ranah cultural studies ini adalah dengan menggunakan CDA (Critical Discourse Analysis) melalui semiotika, hermeunetika, secara interpretasi kritis atau bahkan melalui pendekatan kualitatif dengan analisa kritis. Adapun tokoh-tokoh pemikir dalam tradisi Mahzab Frankfurt yang cukup terkenal sebagai pendiri dari sekian banyaknya tokoh adalah sebagai berikut:

Theodor Adorno: Negativa social, The Culture Industry, kritik musik jazz, budaya pop
-         

      
      Max Horkheimer: Dialectic of Enlightenment.
-         


      Herbert Marcuse: Eros and Civilization, One-Dimensional Man, dan The Aesthetic Dimension.
-         

  
     Walter Benjamin: Aura theory, The World of Art in The Age Mechanical Reproduction.




B. Tokoh Pemikir Mahzab Frankfurt (Generasi Kedua):


Prof. Jurgen Habermas



Kritik Idiologi dari Habermas:

Jurgen Habermas adalah seorang filsuf Yahudi-Jerman yang berasal dari tradisi Mahzab Frankfurt generasi kedua yang dimana Habermas selalu memprioritaskan "komunikasi" di dalam teori kritisnya. Habermas selalu menekankan tindakan komunikatif yang selalu berpijak pada tindakan komunikasi dan interaksi. Habermas sangat menentang adanya revolusi yang selalu menimbulkan korban dan pertumpahan darah. Habermas selalu mengedepankan konsensus dan diskursus melalui tahap diskusi-argumentasi yang mengarah kepada reformasi/pembaharuan. Habermas juga mengkritik idiologi dengan menganggap idiologi sebagai sistem atau kelompok yang mempunyai kekuasaan penuh dengan melakukan penindasan dan penaklukan terhadap kelompok lain. Menurut Habermas bahwa kritik idiologi merupakan kritik terhadap cara kerja kekuasaan dan dominasi tidak sah dalam masyarakat kapitalis. Kekuasaan komunikatif saat ini menurut Habermas banyak bermain di ranah media massa/pers, NGo, organisasi massa yang memaksa pemerintah untuk merespon mengenai diskursus yang terjadi terhadap masyarakat sipil. Kekuasaan komunikatif dari masyarakat diharap dapat juga mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah/pihak yang berkuasa. Habermas selalu menganjurkan adanya "Public Sphare" atau "Ruang Publik" yang dapat digunakan masyarakat untuk membela hak-haknya dan mengekspresikan kebebasan mengeluarkan pendapat yang seluas-luasnya sesuai aturan azas hukum yang berlaku tentunya. Habermas mengkritik modernisasi kapitalis yang terlalu mengedepankan rasionalisasi dan mengabaikan aspek penting komunikasi.

Demokrasi Deliberatif dari Habermas:

Deliberatif bisa diartikan sebagai musyawarah, negoisasi, diskusi bersama. Habermas dalam hal ini selalu menetapkan aspek penting dalam "berkomunikasi". Demokrasi deliberatif bisa dilakukan dalam masyarakat yang sedang bermusyawarah di dalam mengambil sebuah keputusan bulat bersama melalui tahapan proses komunikasi. Kekuasaan deliberatif pada masyarakat sipil dapat dilakukan pada forum-forum diskusi bersama masyarakat dengan melibatkan masyarakat di dalam pengambilan keputusan bersama. Demokrasi deliberatif lebih mengedepankan reformasi dengan membangun partisipasi dan cenderung anti-revolusi. Kedaulatan rakyat dapat dibentuk melalui proses komunikasi (prosedur, pola, tatanan, dan pencapaian). Komunikasi publik akan tepat kehadiran dan keberadaannya melalui adanya ruang publik (public sphare) di dalam menjalankan proses komunikasi. "Media massa" menurut Habermas bisa digunakan sebagai tempat diskursus dalam mengekspresikan kebebasan berpendapat dalam public sphare tanpa adanya tekanan paksaan dan dominasi dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Namum nampaknya idealisme Habermas mengenai media massa sebagai public sphare yang bersih dari segala paksaan dan dominasi terdengar sangat utopis (mimpi yang sangat susah untuk diwujudkan). Media massa saat ini tidak terlepas dari kepentingan dan kekuasaan dari para pemilik modal yang berorientasi profit (keuntungan) dari liputan berita dan budaya yang disuguhkan kepada khalayak. 

Teori Rasionalisasi dari Habermas:  

Habermas membedakan dua macam tindakan rasional: (a) Tindakan rasional yang mencakup dalam dimensi kerja dan (b) Tindakan komunikatif yang mencangkup dimensi komunikasi. Habermas melihat peran ilmu dan teknologi sebagai emansipator (pembebas) emansipasi di dalam pengembangan masyarakat.

Hermeunetik Kritis dari Habermas:

Habermas menganggap hermeunetik sebagai seni memahami makna yang dikomunikasikan melalui linguistik  agar mudah untuk saling dimengerti dan dipahami untuk terhindar dari terjadinya distorsi komunikasi. Habermas kemudian menterjemahkan bahasa saintifik ke dalam bahasa dunia sosial serta menginterpretasikan simbol-simbol linguistik dalam bahasa ke dalam tindakan dan wujud ekspresi. 

-          Jurgen Habermas: Hermeunetik dan Kritik idiologi, Demokrasi Deliberatif, Toward a Rational Society, The Theory of Communicative Action I: Reason and The Rationalization of Society.


*POST MARXIS/ POSTMODERN MARXIS:


    Laclau-Mouffe


      Erneste Laclau  seorang tokoh  Marxis yang berasal dari Argentina yang ahli mengenai bidang ideologi. Laclau melakukan revisi terhadap ajaran-ajaran Marxisme tradisional dan Chantal Mouffe seorang filsuf politik wanita Belgia yang sangat concern terhadap studi-studi pergerakan kemasyarakatan dan juga gerakan feminis. Laclau dan Mouffe berusaha menyelamatkan marxisme dari dirinya sendiri dengan mengabaikan aspek esensialis dari Marxisme. Antagonisme tidak hanya muncul dari konflik kelas melainkan juga dari gender, etnisitas, orientasi seksual etc. Post Marxisme melihat individu sebagai sekumpulan konflik (antagonisme) intinya setiap buruh sosialis memiliki sudut pandang yang berbeda kepentingannya ex: hadirnya serikat buruh sosialis yang membela kepentingan industriawan karena bergantung nafkah hidup dari berdirinya pabrik industri namun kontras di sisi lain terdapat kehadiran serikat buruh sosialis yang menentang industriawan yang dianggap telah membangun pabrik industri yang merugikan masyarakat sekitar dengan melakukan pembuangan limbah/pencemaran lingkungan di sekitar kawasan pabrik industri. Revolusi tidak dapat dicapai karena ada pertentangan yang saling bersaing. Post Marxis sangat radikal dengan menganggap negara adalah musuh yang harus dihadapi yang dapat mengekang kebebasan dan demokrasi. Otoritas negara selalu menghasilkan rezim korup yang tidak mensejahterakan rakyatnya dan menindas masyarakat sipil. Inti dari pemikiran Post Marxisme adalah melakukan perjuangan perubahan atas isu-isu lokal dengan berbagai organisasi lokal serta menganggap berbagai aspek relasi kekuasaan kini telah hadir di segala aspek lini kehidupan. "Pluralisme agnostik" sebagai konflik demokratis antarkelompok dengan memperjuangkan aspirasi menurut kebutuhannya sendiri masing-masing.  Tidak akan pernah ada stabilitas karena konflik tidak mengenal kata "akhir". Post Marxisme mengusulkan "antagonisme etis" dalam pergerakan masyarakat sipil. Laclau bersama Mouffe juga menuliskan pemikirannya dalam sebuah buku yang berjudul "Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politic" pada tahun 1985 yang berisi tentang "Gerakan Kemasyarakatan Baru" dari berbagai gerakan yang bukan berdasarkan berbasis kelas atau buruh sekalipun (pluralitas pergerakan) saling bekerjasama dengan tidak saling mendominasi seperti dalam perjuangan pergerakan satu komando yang selama ini identik dengan pergerakan yang mengusung pemahaman marxisme tradisional dan marxisme ortodox (Leninisme-Stalinisme) dengan menggunakan gagasan demokrasi yang lebih radikal. Pemikiran Laclau dan Mouffe selalu bersandarkan pada paham pemikiran Karl Marx dan Antonio Gramschi yang mempertahankan dimensi etis dan moral melalui cara 'postmodern' untuk menganalisa keobyektifan mereka terhadap mekanisme kontrol terutama dalam bidang sosial-ekonomi. Laclau-Mouffe mneggantikan dialektika Marx tradisional dengan metodologi linguistik 'dekonstruktif' modern karena interpretasi teks akan selalu menghasilkan tafsiran makna yang beragam dengan melakukan metode analisa penelitian melalui critical discourse analysis. Perlu digaris bawahi bahwa Post Marxis/Postmodern Marxis sendiri terlepas dan sangat berbeda dari Postmodern yang diusung Jean Baudrillard.

*PERKEMBANGAN KRITISISME TERHADAP MODERNITAS:
Tokoh Pemikir dalam Teori Modernitas:
-          Anthony Giddens:  Juggernaut dan Runaway World.
-          Ulrich Beck: Globalization and The Rise of The Risk Society.
*Nur Bintang adalah alumnus pascasarjana sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber Referensi:

-F. B. Hardiman. (1993). "Menuju Masyarakat Komunikatif". Yogyakarta: Kanisius. 
-Jurgen Habermas. (1989). "Ruang Publik". Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-George Ritzer. (2009). “Teori Sosiologi: Dari Teori Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern”. Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-Martinjay. (2009). “Sejarah Mahzab Frankfurt: Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis". Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-Rupert Woodfin dan Oscar Zarate. (2008). "Marxisme untuk Pemula: Mengenal Marxisme". Yogyakarta: Resist Book.
-Sindhunata. (1983). “Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt”. Jakarta: PT. Gramedia.
-Daniel Hutagalung, "Laclau dan Mouffe tentang Gerakan Sosial". Basis. Edisi no. 1-2 tahun ke-55, Januari-Februari tahun 2006.
-en.wikipedia.org

___