Artikel

Rabu, 21 Mei 2014

"MOTIVASI DIRI DALAM BEKERJA"


Oleh: Nur Bintang*

Nasehat untuk diriku sendiri...

Terkadang saat anda bekerja maka anda akan merasakan stres atau tekanan dalam pekerjaan terutama ketika harus menyelesaikan target dari kantor sehingga akan banyak menemui halangan dan rintangan seperti hubungan konflik dengan sesama rekan kerja, hubungan konflik dengan atasan atau hubungan konflik dengan klien. Terlepas dari konflik itu semua maka cobalah anda untuk rileks sebentar dengan melepaskan sejenak segala tuntutan pekerjaan (deadline) dari kantor. Bebaskan pikiran diri anda sendiri untuk memaknai pekerjaan yang sedang anda jalani sekarang ini.

Maknai bahwa pekerjaan yang anda jalani saat ini adalah bentuk ibadah kepada Tuhan. Bersyukurlah karena Tuhan memberikan rezeki dari pekerjaan anda untuk membiayai semua kebutuhan hidup keluarga anda. Anda bekerja karena anda adalah pahlawan bagi keluarga anda. Di luar sana masih banyak orang yang disetiap do’anya memohon mendapatkan pekerjaan namun anda sudah memiliki pekerjaan tetap maka tidak ada jalan lain selain anda mensyukuri nikmat dari Tuhan dengan terus berkarya dan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar anda.

Yakinilah dalam hati bahwa motivasi anda bekerja adalah proses untuk meraih sukses. Setidaknya mulailah anda belajar kepada rekan-rekan anda yang dinilai sukses dengan mempelajari sikap etos kerjanya, cara berpikirnya, cara semangatnya dalam menjalani hidup, pelajari sikapnya saat dia terjatuh dan jauh dari zona nyaman, sikapnya dalam membangun rasa sukses. Ambil dan galilah setiap pengalaman orang-orang sukses yang ada di sekitar anda.

Teruslah berpikir positif. Berpikir positif dapat membangun mental anda ke depan secara lebih baik. Segala tekanan dan beban pekerjaan akan terasa lebih ringan jika anda mampu menyikapinya secara positif. Berpikir positif akan membawa anda cepat menyelesaikan segala masalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Kerjakan semua pekerjaan yang ditugaskan kepada anda dengan hati lapang maka anda akan terhindar dari sikap-sikap merusak diri seperti mengeluh, pesimis, malas, mudah menyerah atau menyalahkan orang lain.

Tingkatkan kreatifitas anda. Bekerja juga perlu dituntut kreatifitas maka tidak salahnya anda bersikap rendah hati untuk mau belajar, mengikuti seminar serta mau terbuka terhadap segala perubahan yang ada. Kreatifitas manusia itu bersifat dinamis yang tidak bisa dikekang. Bukalah diri anda terhadap perkembangan ilmu pengetahuan baru yang dapat berguna bagi anda ke depan.

Refreshing. Setiap pekerjaan tidak ada salahnya jika diimbangi dengan rekreasi atau liburan untuk menjaga kesehatan psikis anda. Setelah bekerja lama untuk menyelesaikan target dari kantor maka melakukan kegiatan refreshing semacam rekreasi dapat membangkitkan semangat produktivitas kerja anda ke arah yang lebih baik. Jika anda mampu memotivasi diri dalam bekerja maka kualitas dan kinerja anda akan terus datang dan meningkat kembali.[]

*Nur Bintang adalah seorang pengamat sosial dan budaya.

"I CAN DO IT!"


Oleh: Nur Bintang*


Nasehat untuk diriku sendiri...

Saya bisa melakukannya! Sebuah kalimat yang mampu membakar semangat jiwa anda dalam menggapai tujuan saat ini yang sedang anda kerjakan. Segala sesuatu yang anda pikirkan saat ini suatu saat pasti akan berubah menjadi kenyataan. Hal ini sangat ilmiah karena mentalitas diri anda nanti yang akan membentuk makna dunia sesuai yang anda impikan. Cobalah pikirkan sesuatu hal positif yang berguna bagi diri anda. Renungkan dan tentukan langkah anda saat ini. Biasakanlah anda untuk senantiasa berkata dalam hati, “I can do it!

Kebiasaan (habit) ini diawali dari langkah kecil yaitu mendesain pola pikir anda dalam bertindak. Setiap anda menghadapi masalah dan kesulitan yang harus segera dipecahkan maka usahakan untuk tidak lari dari masalah. Cobalah terus hadapi semua masalah anda untuk dicarikan solusi pemecahannya. Semakin banyak solusi yang berhasil anda ciptakan dan lakukan melalui bentuk kebiasaan diri maka secara tidak langsung anda telah siap merancang kesuksesan dari masa depan anda sendiri.

Mentalitas positif “I can do it!” ini sudah banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh besar dunia seperti CEO dan founder Apple Inc. yaitu Steve Jobs dan CEO dan founder Microsoft yaitu Bill Gates. Walaupun kedua tokoh ini dahulu pernah berseteru hebat namun ada kesamaan dari kedua tokoh legenda dalam bisnis industri teknologi dunia ini yang bisa kita teladani bersama. Sosok Steve Jobs dan Bill Gates sama-sama seorang mahasiswa drop-out universitas yang memiliki keyakinan besar untuk merubah dunia. Perjuangan Steve Jobs mendirikan bisnis perusahaan Apple Inc. diawali dari sebuah garasi kecil di rumahnya dimana hal yang hampir serupa juga dilakukan oleh seorang Bill Gates dengan mendirikan kantor perusahaan pertamanya dari sebuah garasi rumah. Apa yang mendasari kedua tokoh itu mampu berbuat besar bagi dunia? Jawabnya adalah keyakinan dalam hati mareka untuk berkata, “I can do it!” ketika menggapai arah tujuan hidupnya. Kini hasilnya, perusahaan teknologi Apple Inc. dan Microsoft berhasil tampil menjadi pemain terdepan dalam industri teknologi dunia.

Orang-orang besar dan sukses pada umumnya selalu mendesain pola pikir mereka untuk sukses, membentuk mentalitas positif, dan membuang semua pemikiran negatif. Orang-orang yang ditakdirkan sukses adalah orang-orang yang tidak pernah membenci apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Orang-orang sukses selalu mencintai suatu hal positif yang telah menjadi bagian dari pekerjaannya dengan tanpa pernah berkata negatif.

Perilaku sukses selalu dilahirkan dari pemikiran sukses. Ucapan, “I can do it!” bisa menjadi bahan bakar bagi anda sekalian untuk menyelesaikan masalah dalam skala prioritas kerja. Semua hasil dari kegiatan dan mentalitas positif pasti membutuhkan sebuah proses. Proses kesuksesan tersebut dapat anda lakukan dari hal-hal terkecil dalam kehidupan sosial sehari-hari yaitu melalui pikiran positif dan tindakan positif. Goreskan kata dalam hati anda dengan kata “I can do it!” sebelum kemudian bertindak jauh mengejar arah tujuan hidup anda sesungguhnya.[]

*Nur Bintang adalah seorang pengamat sosial dan budaya.

Kamis, 08 Mei 2014

“SASTRA SEBAGAI EKSPRESI SOSIAL”


Oleh: Nur Bintang

                                       "Kalau bumi dan gunung-gunung bukan pecinta,                                           maka rumput tidak akan tumbuh dari dada mereka..."
  (Jalaluddin Rumi, Pujangga Arab abad 12)

              
Artikel dalam postingan kali ini diambil dari kata pengantar pada buku kumpulan sajak-sajak puisi karya saya yang saya tulis sendiri. Tulisan kata pengantar ini sebenarnya sudah saya tulis cukup lama sekitar pertengahan tahun 2005 lalu. Tulisan ini seakan terus merekam memori saya saat itu yang gandrung akan buku-buku sastra novel, cerpen, maupun puisi dari lokal maupun mancanegara seperti penyair Chairil Anwar, WS. Rendra, Hamka, Sutardji, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma dari Indonesia atau Anton Chekov, Leo Tolstoy dari Rusia, Jean Paul Sartre dari Perancis, Friedrich Nietzsche dari Jerman, T.S. Eliot dari Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Saya mengambil sudut pandang lain mengenai sastra sebagai wujud ekspresi sosial masyarakatnya dan bukan hanya sekedar hasil budaya manusia semata. Sastra sebagai budaya memiliki fungsi penting untuk menyampaikan aspirasi/gagasan kritis dari kondisi sosial masyrakat yang disampaikan oleh penulis, sastrawan, atau penyair kepada khalayak luas. Selamat membaca!
S

astra identik dengan seni yang mengandung unsur tulisan serta unsur gaya bahasa. Karya sastra sendiri terbentuk dari kepekaan jiwa penulisnya dalam mengungkapkan fenomena yang terjadi baik di dalam hatinya ataupun keadaan yang berada di lingkungan sosial itu sendiri.

Karya sastra menyajikan suatu model kehidupan itu sendiri yang sebagian bergantung kepada kenyataan sosial, alam, dan dunia subjektif manusia yang di dalamnya dapat ditemukan karakter-karakter perjalanan kehidupan dengan mendramatisasi seni tulisan untuk mewakili keadaan di sekitar dengan diungkap melalui emosi jiwa dari hati penulis sehingga dapat menjadi sebuah karya tulisan sastra.

Sastra merupakan wujud budaya bahasa yang dirangkai dengan kalimat indah dengan tujuan memberi makna pesan yang tersirat dalam tulisan tersebut. Jika kita memandang hubungan sosial budaya dengan karya sastra maka dapat dikatakan bahwa sastra juga merupakan ekspresi kebudayaan di dalam suatu unsur masyarakat. Karena di dalam masyarakat mengandung unsur hasil karya intelegensi manusia dalam hal seni dan sebagai wujud dari kebudayaan sosial masyarakat setempat.

Sastra sebagai bagian dari karya seni tentu saja dapat berguna bagi orang lain. Jika karya seni yang diapresiasikan itu memancarkan sinyal komunikasi yang bisa dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Tingkat pemahaman terhadap karya seni yang sedang diapresiasikan, tentu saja sangat beragam, tergantung dari sampai sejauh mana orang tersebut sungguh-sungguh mencintai terhadap karya seni yang sedang diapresiasikan atau disajikan kepada para penikmat sastra itu sendiri.

Sajak syair-syair puisi memang bersifat estetik (indah) bila kita konsumsikan dengan baik maka akan memberikan kenikmatan batiniah. Jiwa kita tergetar, terharu, tersentuh oleh komunikasi artistik, menyibakkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata sehingga dapat memengaruhi keadaan psikologis bagi orang yang membaca syair tulisan sastra tersebut. Pembaca dapat turut serta merasakan apa yang dirasakan oleh penulis atau sastrawan dari dalam hatinya dalam mengungkapkan maksud tulisan.

Sastrawan sebagai individu mempunyai perasaan yang sangat peka  telah dibentuk dari masyarakat yang melahirkannya. Sastrawan sebagai bagian dari masyarakat juga peka membahas keadaan sosial yang tengah dihadapinya sendiri ataupun yang sedang dihadapi masyarakatnya saat ini.

Latar belakang sosio-kultural penulis atau sastrawan juga sangat memengaruhi isi sebuah karya sastra yang ditulisnya. Hal ini dikarenakan karya sastra lahir sebagai representasi bagian kisah hidup manusia selama masih berjalan di atas dunia ini.

Seorang penulis atau sastrawan biasanya selalu mencari inspirasi pada suasana hening, sunyi dan sepi untuk dapat mencurahkan segala isi hatinya tanpa adanya gangguan dari luar agar tetap fokus dan konsisten terhadap karya sastra yang hendak ditulisnya. Seni juga dapat memengaruhi karakter dari kepribadian seseorang. Seorang penulis atau sastrawan selalu merenungi makna arti dari kehidupan itu sendiri. Mirip juga dengan para filsuf yang sedang mencari makna arti kebijaksanaan dan akal-akal logika dari pikiran mereka sendiri.

Kehidupan penulis atau sastrawan itu sendiri memanglah tidak berbeda dari para filsuf yaitu sama-sama terlahir sebagai orang-orang yang peduli dan peka sosial bahkan Leonardo Da Vinci yang juga merupakan seorang, ilmuwan sekaligus seniman ternama dari Italia pernah mengatakan, “Semakin peka jiwa seseorang maka semakin lengkaplah penderitaan duka batin yang dialaminya.” Maka tidak salah, jika banyak orang-orang mengatakan bahwa menulis adalah mengekspresikan emosi hati ke dalam bentuk sebuah tulisan.[] 

Nur Bintang, 2005


Sweet Memory...

Berikut ini adalah salah satu syair puisi karya saya yang sempat menjadi juara I dalam ajang Lomba Cerpen dan Puisi Islami yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Purwokerto bekerjasama dengan surat kabar harian nasional ‘REPUBLIKA’ pada tahun 2005 bersamaan dengan acara bedah buku novel “Ayat-Ayat Cinta” bersama penulis novel best seller ‘Habiburrahman El Shirazy’ dan tokoh sastrawan Indonesia ‘Ahmad Tohari.’ Syair puisi yang saya tulis ini juga sempat diterbitkan oleh Majalah lokal “Suara Gerilya” pada edisi bulan September tahun 2005. Syair puisi yang saya tulis ini saya beri judul “Kasidah Sayap-Sayap Proletar.” Berikut ini adalah syair puisinya:

*Kususuri got-got tikus jalanan
Disaat alur-alur debu trotoar memicek mata belekku
Melihat sesak dari tulang-belulang manusia-manusia rombeng
Di gemerlap pengap megah relung sudut kota

*Lihatlah kaum sahayaku yang kere
Berteduh di kardus-kardus lapuk
Berjalan terkulai dan ngesot
Dari tangis para busung pesakitan

*Tolong sampaikan salamku buat  Pak Gusur
Supaya lekas bantu aku mengangkat kasur
Sebelum rumahku dihancur lebur
Digilas roda bisnis properti

*Sampaikan juga salamku buat Sang Khalik
Dari hamba-Mu yang kere ini
Umat-umat marhaen utusan kaum proletar

*Kubentangkan sayap seraya tangan mengadah
Memohon hidayah meminta anugerah
Kunci gembok pintu sorga jazirah
Sebening aroma merdu lagu-lagu kasidah

*Salam tonjok buat tikus-tikus berdasi
Yang doyan makan duit bungkus sambal terasi
Hingga kaumku tak dapat makan sebutir nasi

*Tolong juga sampaikan salamku buat para penjahat
Para maling ayam kelaparan
Yang berpijak pada tanah maha kaya ini
Tanah firdaus anugera illahi

*Tolong dengarkan isi penjara hati kami
Hati nurani kami,
Yang dipecundangi semunya keadilan
Kaum tertindas yang selalu diremehkan!

*Tolong beri kami ketabahan dan kekuatan
Hingga ingin kubakar langit dan bintangpun pergi
Sampai-sampai....?
Aku didamprat dan dimaki-maki oleh matahari
Sebagai imbas dari pembalasan nelangsa batin ini ?

(Nur Bintang, Purwokerto, 2005)

Selasa, 29 April 2014

"INNER BEAUTY"



Oleh: Nur Bintang


Definisi cantik yang dirasakan oleh setiap manusia pasti akan berbeda-beda. Selama ini kita selalu disesatkan oleh berbagai iklan produk kecantikan televisi yang mengatakan jika makna cantik atau tampan adalah identik dengan kulit putih, hidung mancung, tubuh tinggi, berdarah campur indo-eropa dan berbagai atribut fisik lainnya. Cantik atau tampan sebenarnya bukanlah berasal dari fisik semata namun berasal dari cara sikap positif Anda untuk dapat menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Pengadaan event-event seperti Putri Indonesia, Miss World, atau Miss Universe sebenarnya sangat baik dalam mendidik masyarakat dari sudut pandang sosiologis ketika memahami dan memaknai definisi “cantik” secara lebih proporsional dan bermartabat.


Jangan jadikan cantik atau tampan sebagai wujud budaya populer menurut atribut fisik semata tetapi jadikanlah perilaku yang baik sebagai wujud budaya cantik secara non-fisik. Budaya itu adalah keluhuran dan kebaikan. Jadi, segala sesuatu yang menyebabkan perilaku tidak baik seperti kesombongan merasa diri sebagai orang yang paling cantik atau tampan mirip artis atau aktor terkenal bukanlah wujud dari sebuah eksistensi budaya. Cantik atau tampan dari diri sendiri sebenarnya dapat terpancar dari aura cara berpikir (intelektualitas) dan cara berperilaku Anda. Setiap perilaku yang baik dengan dilandasi niat yang baik pasti akan memancarkan sisi ‘inner beauty’ yang kuat dari diri Anda. Jadi berhentilah untuk selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dianggap lebih beruntung. Tuhan itu Maha Adil karena menciptakan manusia secara sempurna sesuai ketetapan yang menjadi kehendak-Nya.


Ingat! Orang lain akan menghormati dan menghargai Anda jika Anda mampu menghargai diri sendiri secara positif. Jangan suka mengeluh dihadapan orang lain, menganggap Tuhan tidak adil, atau bahkan menyakiti orang lain. Pikiran negatif itu sangat berbahaya, merusak dan cenderung menular. Pikiran negatif  dapat membunuh karakter setiap orang yang ditemuinya tanpa kecuali. Dari sini Anda akan belajar jika ‘inner beauty’ itu berasal dari kekuatan pikiran positif Anda terhadap kekurangan dan kelebihan yang anda miliki sendiri.


Inner beauty dari dalam sebenarnya melebihi dari kecantikan luar fisik semata. Belajarlah menghargai orang lain. Ini kelihatannya mudah tapi sangat sulit untuk dilakukan. Tidak ada salahnya anda memberikan pujian yang layak terhadap suatu hal yang menurut Anda itu baik kepada orang lain. Menghargai orang lain sama halnya seperti bagaimana cara Anda untuk menghargai diri sendiri. Hal tersebut menunjukkan sisi ‘inner beauty’ yang terdalam dari diri Anda.


Jadi inner beauty sangat berhubungan dengan cara berpikir positif Anda untuk melakukan suatu hal yang baik berdasarkan landasan niat yang baik. Inner beauty sebenarnya lebih menjurus terhadap kecerdasan intelegensi, emosional dan spiritual Anda. Jadi terlalu dangkal jika memaknai dan menilai cantik atau tampan dari atribut fisik semata. Inner beauty bukan sekedar sudut pandang atau kacamata perspektif menurut selera Anda tetapi bagaimana cara Anda berbuat dan menyebarkan makna kebaikan terhadap sesama. Kuatkan ‘inner beauty’ Anda dengan terus berpikir positif dengan melakukan kebaikan. Hal ini mungkin senada dengan ucapan filsuf Rene Descartes yang dapat menjadi bahan renungan Anda, “Aku berpikir maka aku ada![]

 *Nur Bintang adalah pengamat sosial dan budaya.


Cerpen Karanganku: “Rosiana Julia”





Lukisan grafis karya Nur Bintang dengan mencontoh lukisan serupa



Cerpen 'ditulis oleh: Nur Bintang*

Pengantar
Saya menulis cerita pendek (cerpen) dengan judul 'Rosiana Julia' ini sudah cukup lama sekitar bulan Juni tahun 2006 dan berhasil menjadi juara I dalam lomba penulisan cerpen untuk tingkat Universitas Jenderal Soedirman dalam ajang ‘Pekan Seni Mahasiswa’. Naskah cerpen ini sempat hilang sekitar satu tahun dan berhasil saya temukan kembali di gudang rumah dengan kondisi rusak ketika saya sedang menyusun kardus buku-buku. Akhirnya, naskah ini saya dokumentasikan kembali di blog pribadi saya dengan beberapa sedikit editing terhadap beberapa penggal kalimatnya karena ada kesalahan dalam penggunaan kata dengan tanpa merubah cerita aslinya karena saya anggap cerita pendek (cerpen) ini memiliki kenangan dan nilai-nilai historis yang sangat kuat dan melekat pada diri saya secara pribadi. 

Cerita pendek (cerpen) yang saya tulis ini dapat dibilang sebagai konteks wujud sastra yang bergenre postkolonial hampir sama seperti karya-karya novel dari maestro kandidat peraih nobel sastra asal Indonesia yaitu Alm. Pramoedya Ananta Toer yang banyak bercerita mengenai zaman-zaman kolonial atau masa setelah berakhirnya penjajahan. Dalam hal ini, saya berusaha menjadi ‘diri sendiri’ dan ‘lain dari yang lain’ yakni dengan mengedepankan ide-ide orisinalitas untuk dapat mewujudkan sastra cerita pendek (cerpen) dengan menggunakan gaya pendekatan postkolonial. Ide cerita pendek ini sangat sederhana. Saya sebagai penulis cerita pendek (cerpen) ini hanya berusaha mengedepankan konflik batin dari tokoh utama dalam cerita pendek (cerpen) ini yaitu Herman Jansen Soetrisno (seorang anak keturunan Indonesia-Belanda) dalam memaknai identitas sosial dan identitas budaya dalam dirinya. Selamat membaca! (Nur Bintang).


S
eperti bangunan klasik lain di Korte Singel di Holland (Belanda). Rumah yang terletak di Jalan Melati nomor 13 di salah satu sudut Kota Jakarta itu sungguh terlihat sangat besar dan megah. Pohon-pohon mangga besar yang terletak di depan rumah makin menambah rindang dan kesejukan suasana di halaman rumah. Rumah tua bergaya Eropa ini memang masih memiliki aura nuansa natural sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang sekitar yang melihatnya. Kondisi rumah saat aku berkunjung ke sana sangatlah sepi dan nampak hanya sesekali satu atau dua pejalan kaki dan seorang pengendara motor yang melintas di depan rumah. Akupun mulai melangkah dan memasuki pekarangan rumah tua yang cukup luas itu sambil sesekali aku melihat keadaan sekitar dan memelototi nama yang jelas terpampang pada pintu masuknya yang terbuat dari potongan balok kayu jati yang cukup kuat dan tebal, Van Bilderbeek Huis (Rumah Van Bilderbeek). Tanpa merasa canggung lagi sesekali aku mulai mengetuk pintu dan memejet bel pintu rumah dan berharap seseorang membukakan pintu tua jati tua itu untukku.

Setelah menunggu beberapa saat, mulai terdengar suara pintu yang hendak dibuka dan setelah pintu dibuka, betapa kaget dan senangnya sang pemilik rumah tua itu melihat kedatanganku sembari menatap wajahku dengan penuh selidik sambil mengingat-ingat penuh tanda tanya. Yah! di hari ini sang pemilik rumah ini sedang kedatangan seorang tamu spesial yang dirasa sudah tidak asing lagi baginya ialah aku.. Herman Jansen Soetrisno! sebuah nama perpaduan Belanda-Jawa yang sebenarnya bila aku pikir cukup aneh dan antik untuk anak-anak seumuranku di zaman millenium ini. Setelah dipersilahkan masuk maka tidak selang beberapa saat, aku langsung dipeluk erat dengan penuh kerinduan oleh sang pemilik rumah tersebut. Sorot matanya yang cekung mulai menatap tajam. Dipandangnya diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum bahagia sambil berkata, "Hoe gaat het met je?" (bagaimana kabarmu?). Sesekali nampak keriput di wajah dan uban di rambutnya namun tidak menghilangkan aura kecantikan dari sisa-sisa masa mudanya dahulu. Ya! dia adalah nenekku tercinta yang biasa aku panggil dengan sebutan, “Oma..!” (nenek) atau lebih lengkapnya ialah Oma Rosiana Julia.

Aku sampai hari ini sebenarnya cukup heran dan kagum melihat keadaan Oma di usia senja sekarang ini. Oma tetap saja dapat dibilang masih terlihat sehat dan kuat. Oma lalu mempersilahkan aku duduk di ruang tamu dan memintaku bercerita mengenai kabar keluargaku selama ini. Seperti biasa aku mulai bercerita tentang kegiatan diriku selama ini dengan memberi kabar istimewa kepada Oma jika sekarang ini aku telah berstatus menjadi seorang mahasiswa. Maklum saja, aku sudah lama tidak bertemu Oma lagi sejak aku ikut bersama ayah dan ibuku pindah ke luar negeri menuju Eropa karena alasan ada pemindahan kerja dinas dari kantor tempat ayahku bekerja, yang dimana aku sewaktu itu masih berumur 10 tahun. Bayangkan saja!!! Aku sudah lama tidak bertemu Oma selama kurang lebih 12 tahun namun ayah beberapa kali sempat pulang ke Indonesia untuk menjenguk Oma. Tentu saja perasaan rindu kepada Oma tetap berkecamuk di dalam hatiku karena selama ini aku belum pernah bertemu dengannya kecuali di hari ini, hari yang membahagiakan dimana kami dapat bertemu kembali setelah beberapa tahun yang lalu.

Dengan perasaan senang, Oma berkata kepadaku, “Herman cucuku! Kau sekarang ini terlihat sudah banyak berubah. Bila Oma pandang kamu kini terlihat tampan dan gagah sama seperti kakekmu saat masih mudah dulu. Pasti sudah banyak anak gadis yang tertarik sama cucu oma ini.” Akupun tertawa mendengar gurauan oma sembari tersenyum malu, “Ah, Oma bisa saja! Aku sendiri saat ini belum punya pacar kok!” Oma terlihat tertawa terbahak-bahak ketika mendengar perkataanku hingga tak terasa suaranya makin memecah kesunyian, yang tampaknya telah lama tersembunyi di dalam rumah tua ini. Setelah bercakap-cakap sejenak dengan Oma maka Oma menyuruhku untuk beristitahat sejenak di kamar tidur yang sudah disiapkan sambil aku menunggu hidangan makan siang yang disiapkan Oma untukku dengan Bibi Ijah, si pembantu rumah.

Setelah beristirahat sejenak, akupun keluar kamar hanya untuk sekedar refresh dan membuang kebosanan dengan berjalan perlahan-lahan menuju ruang utama yang ada di dalam rumah. Tampak terlihat keadaan rumah Oma masih tetap saja asli dan tidak berubah sejak kepergianku bersama ayah dan ibu dahulu. Arsitektur di dalam rumah Oma masih terlihat antik dan klasik dengan mempertahankan gaya ornamen bangunan rococo, sebuah gaya interior Eropa yang sangat terkenal pada abad ke-18, kupandangi sebuah lukisan lusuh dan tua karya salah seorang pelukis Belanda yang tinggal di Batavia dahulu yaitu Dick van  Koopmans. Pelukis asal Belanda itu menggambar wajah kakekku ketika menggunakan model pakaian adat Jawa tempo doeloe yang terpampang jelas tegak berdiri di tengah-tengah dinding ruangan. Kakekku itu bernama Soetrisno, seorang pribumi biasa yang bernasib mujur mempersunting seorang gadis Eropa, berambut pirang dan bermata coklat yang tidak lain adalah Omaku sendiri yang sangat aku hormati itu.

Sebenarnya aku sendiri kurang begitu paham dengan perihal latar belakang kakek dan Oma tetapi yang jelas ayahku pernah sedikit bercerita tentang kisah asmara keduanya bahwa pertemuan jodoh antara kakek dan Omaku bermula ketika kakekku bekerja sebagai kuli kontrak pada perusahaan perkebunan cengkeh di Jawa yang dimiliki oleh seorang pengusaha kaya Eropa asal Belanda yang bernama Meneer Van Bilderbeek yang tidak lain adalah kakek buyutku. Meneer Van Bilderbeek mempunyai anak semata wayang, seorang noni pirang cantik, bermata coklat yang selalu menjadi rebutan hati para pemuda Belanda di Batavia yang bernama Rosiana Julia (Omaku) dan biasa dipanggil dengan sebutan Meisje Rosiana (Nona Rosiana). Pertemuan mereka bermula ketika Meneer Van Bilderbeek menyuruh salah satu kuli kontraknya yang bernama Soetrisno yang tidak lain adalah kakekku untuk mau mengantarkan dan menemani putrinya yang sedang menjalani masa liburan dari sekolahnya di Batavia untuk hanya sekedar berjalan-jalan dan menikmati pemandangan indah kebun cengkeh milik ayahnya itu.

Pertemuan mereka itu selalu terjadi berulang kali bahkan setiap hari sehingga seiring dengan berjalannya waktu telah semakin menambah kedekatan kedua insan sejoli ini untuk berikrar janji cinta setia. Konon hubungan cinta terlarang mereka sempat tercium bahkan sangat ditentang oleh Meneer Van Bilderbeek, kakek buyutku yang menganggap putrinya sebagai golongan kelas Eropa atas yang tidak pantas menerima pinangan cinta dari seorang kuli kontrak, pribumi biasa kelas bawah dari Jawa. Sudah menjadi kebiasaan tingkah kaum feodal orang-orang Belanda pada zaman kolonial dahulu di Indonesia yang biasa bersikap rasist dan suka melecehkan kulit gelap orang-orang pribumi yang biasa diberi umpatan, “Inlander kotor..!” 

Tetapi apa mau dikata bila kenyataannya, putri semata wayang Meneer Van Bilderbeek sudah terlanjur hamil di luar nikah dengan umur janin di tubuhnya yang berusia empat bulan. Kelak bayi laki-laki Indo-Belanda itu akan diberi nama Rosi Drescher Jansen Soetrisno, yang tidak lain adalah ayahku sendiri. Mau tidak mau akhirnya Meneer Van Bilderbeek merestui pernikahan putri semata wayangnya yang dahulu sangat ditentangnya dengan menikahkannya kepada seorang pribumi kelas bawah yang sangat tidak disukainya itu sambil menahan malu dari cemoohan dan ejekan dari kawan-kawan sesama pengusaha serta kenalan para pejabat pemerintah kolonial yang biasa berkumpul di gedung kantor pemerintahan gubernur jenderal Hindia-Belanda. Semenjak kejadian tersebut, Meneer Van Bilderbeek kemudian memutuskan untuk kembali ke negeri Belanda dan enggan menemui putrinya kembali kecuali hanya berkirim surat hingga sampai ajal menjemputnya.

Omaku, menurut cerita ayahku dahulu pernah menjadi aktivis idealis yang aktif berorganisasi terutama pada berbagai organisasi yang berhaluan marxist yang saat itu sedang merebak di seluruh kawasan Eropa terutama di Hindia-Belanda. Mungkin berdasarkan dari pengalaman cintanya itu, Oma bercita-cita tidak ada kelas sosial dominan yang suka menindas karena masalah perbedaan status sosial. 

Berulang-ulang dahulu Oma pernah berkata kepada anaknya yang tidak lain adalah ayahku sendiri yang dimana Oma selalu berbicara risalah tentang pemikiran Karl Marx dan Engels dalam bahasa Belanda. Oma bahkan sempat memberi nasehat kepada ayahku yang ketika itu masih berumur sepuluh tahun dengan berkata, “Vrij man en slaaf, patricier en plebejer, baron en lijfeigene, gil demeester en yezed, in een woord, verdrukker en verdrukten, stonden in een voort durende tegenstelling tot elkander en voerden een gestandigen, nu eens bedekte danweer openstrijd, een strijd die altijd met een revolutionaire omvorming van dergehele maatschappij eindig de, of wel met de gezamenlijke ondergang der strij dende klassen!”* (Orang merdeka atau budak kaum ningrat, kepala buruh atau buruh dengan satu perkataan penindas yang ditindas, selalu bertentangan satu sama lain, selalu berjuang satu sama lain, dan perjuangan selalu berakhir dengan perubahan susunan masyarakat sama sekali, atau hancur binasa kedua-duanya kelas yang berjuang itu). Celoteh nasehat Oma ditujukan kepada ayahku agar tidak meniru sikap anak-anak sinyo Belanda lain yang kerap suka bersikap kurang ajar terhadap anak-anak pribumi. Akupun mulai bisa membayangkan jika petuah Oma mungkin hampir sama seperti teriakan pidato Bung Karno yang berapi-api ketika sedang membakar semangat tentara republik di atas podium dahulu.

Aku secara tidak sadar mulai mendengar teriakan Bibi Ijah, pembantu rumah Oma di ruang makan dengan memanggil namaku, “Den Hermaaan.. ayo makan siang dulu!” Akupun segera bergegas berdiri meninggalkan ruang utama dan berjalan menuju ruang makan. Di ruang makan aku melihat Oma sudah menunggu kedatanganku, lalu dengan sigap aku menghampiri kursi duduk di meja makan dan mengambil lauk-pauk yang sudah disajikan di atas meja makan. Aku dan Oma selalu berbincang dan bercanda di saat kami sedang makan siang bersama bahkan Oma selalu menasehatiku berkali-kali dengan peribahasa Belanda, “Wie de jeugd heeft, heeft de toekomst!” (Siapa yang memegang pemuda hari sekarang, dia juga akan memegang hari kemudian!).

Aku saat ini hanya bisa tersenyum kecil ketika harus mendengarkan nasehat ucapan Oma berkali-kali di ruang makan yang masih terlihat menjaga norma tradisi di zamannya dahulu. Maklum saja, Omaku termasuk dooppsgezind, pengikut agama yang bisa dibilang taat. Padahal pikirku dalam hati sebenarnya zaman ini, zaman setelah setengah abad Hindia-Belanda (Indonesia) berhasil merdeka dari pengaruh belenggu penjajahan Belanda sudah banyak perubahan situasi dan kondisi yang ada di zaman saat ini dimana  banyak budaya-budaya baru dari Barat yang dinilai tidak etis telah masuk dan sudah mengikis budaya Timur orang-orang pribumi bahkan sosialisme yang banyak didengungkan pada zaman masa lalu sudah lama runtuh dengan hadirnya modernitas gaya hidup yang disokong oleh kapitalisme. Namun Oma masih bisa bernafas lega jika praktek rasisme yang ditentangnya saat zaman penjajahan Belanda dahulu saat ini sudah hancur dan hak-hak kesetaraan manusia kini sudah diakui sejajar di seluruh penjuru bumi. Aku sendiri tidaklah merasa bangga menganggap diriku ini sebagai orang Indo turunan Belanda. Karena bagiku, darah di tubuhku ini masih mengalir dan melekat darah Soetrisno, kakekku, seorang bekas kuli kontrak sebagai bagian dari orang-orang pribumi berkulit gelap yang harus banyak menanggung beban penderitaan selama akibat masa penjajahan kolonial Belanda dahulu.

Sekali lagi aku hanya bisa memandangi wajah Oma dari sudut atas meja makan. Oma mulai menelan makanan dari sendok miliknya sambil sesedikit melihat ke arahku sambil tersenyum. Terus terang saja aku saat ini terharu dan kagum melihat pesona kepribadian Oma yang masih tetap saja bersahaja, teguh pendirian dan penyayang. Dalam hati aku dapat bersyukur tentang nasib almarhum kakekku dahulu yang bisa dikatakan sangat beruntung dapat menaklukkan hati  cinta Oma. Keputusan Oma untuk menjadi warga negara Indonesia dan tidak kembali ke negeri Belanda agar bisa hidup bersama kakek merupakan bentuk kesetiaan cinta Oma kepada kakek. Tidak terasa sekilas terbesit dalam pikiranku untuk memikirkan alur tentang kehidupan di dunia ini bahwa kehidupan itu ibarat historiche taak saja yang bergerak seiring dengan kehendak sejarah saja yang sudah ditetapkan garis takdirnya oleh Sang Maha Kuasa.

Pada akhirnya, aku tak mau ambil pusing lagi memikirkan makna kehidupan selain hanya ingin menikmati hari-hariku selama berada di rumah Oma. Hari ini aku mulai dapat merasakan perasaan hati yang bahagia karena aku dapat mengunjungi dan melihat keadaan Oma yang masih terlihat sehat. Aku sendiripun tidak ingin berharap banyak selain dapat menemani dan merawat Oma di saat usia senjanya saat ini. Dan sekali lagi, di atas meja makan. Oma hanya bisa tersenyum bahagia saat menatap wajahku. Mungkin Oma sekarang sedang senang ketika di saat sisa-sisa usia senjanya saat ini masih diberi umur panjang oleh Sang Maha Kuasa untuk dapat melihat cucu kesayangannya saat ini sudah mulai tumbuh beranjak dewasa.[]

Nur Bintang, Purwokerto, Juni 2006.

*Kutipan bahasa Belanda, saya ambil dari pemikiran Karl Marx-Engels dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi.” Terbitan III tahun 1964 karya Ir. Soekarno (Presiden Republik Indonesia ke-1).